Ketika Orang Tuamu tidak menyukai pacarmu

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah buat diri saya secara pribadi….

kisah ini diambil dari buku Love, Sex & Dating karangan Greg Johnson & Susie Shellenberger…

Berikut adalah kisahnya…

*Nama dan kota diubah*

Aku dibesarkan di Houston dan belajar di Universitas Kristen di Oklahoma. Di sanalah aku bertemu Dave,mahasiswa baru tahun itu. Ia berasal dari Miami, dan kami berteman baik. Kami berdua berasal dari keluarga Kristen yang konservatif dan kedua ayah kami terlibat pelayanan.

Pada Tahun pertama kuliah, Dave bertingkah agak liar. Bukan sesuatu yang benar-benar buruk-hanya terlalu banyak bercanda yang mengakibatkan pihak administrasi menskorsnya beberapa kali. Setelah tahun pertama kami di kampus berakhir, kami berdua kembali ke kota kelahiran kami dan bekerja mengumpulkan uang untuk biaya kuliah tahun berikurnya.

Selama musim panas tersebut, Dave sungguh2 serius terhadap komitmennya kepada Tuhan. Ia juga memutuskan untuk belajar. Jadi ia meninggalkan kehidupan liarnya di belakang Yesus. Ketika aku kembali ke bangku kuliah untuk menjalani tahun keduaku, aku melihat banyak perubahan di dalam hidupnya.

Dulu ia seorang cowok populer, tetapi sekarang ia menggunakan popularitasnya untuk mengenalkan Kristus kepada orang lain. Ia menjadi pemimpin di kampus dan membimbing beberapa mahasiswa menuju hubungan yang serius dengan Tuhan.

Pada pertengahan tahun kedua, kami berpacaran. Aku pulang ke rumah pada liburan semester dan menceritakan semua tentang dirinya kepada orang tuaku. Waktu itu aku yakin mereka akan turut bergembira karena aku telah berpacaran dengan seorang pemuda yang luar biasa. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka membuat aku terkejut.

“Sayang, kami sudah mendengar tentang Dave. Menurut kami, ia terlalu liar untukmu.”

Ya, memang kuakui reputasinya pada tahun pertama kami dulu telah menyebar luas. Sejak kami kuliah di Universitas Kristen setempat, berita dan surat cepat menyebar! Tidaklah mengherankan jika mereka mengetahui tentang Dave.

“Tapi, papa tidak mengerti. Dave tidak seperti itu lagi. “

“Meskipun demikian, Emily, papamu benar. Kami tidak ingin kamu berhubungan lagi dengannya”

“Ma, ia telah berubah 180 derajat. Ia kini menjadi pemimpin rohani di kampus. Ketika kami sedang berdua, kami membaca Alkitab, berdoa dan mendiskusikan rencana2 kami. Aku tidak pernah berpacaran sebelumnya dengan orang seperti dia. Ia tahu di mana ia berada. Ia berpikir secara mendalam. Ia memberikan dorongan kepadaku. Aku sungguh2 menyukainya.”

“Emily, kami TIDAK ingin kamu berpacaran lagi dengannya”

Seharusnya aku dapat berteriak. Seharusnya aku dapat membentangkan kenyataan di depan mereka bahwa mereka berada jauh dari kampus sehingga tidak bisa menghakimi Dave secara akurat. Bagaimanapun, mereka bahkan belum pernah bertemu dengan Dave.

Seharunya aku dapat mengingatkan mereka bahwa aku sudah kuliah sekarang- seorang yang benar2 dewasa untuk mengambil keputusan sendiri. Aku merasa terluka. Aku shock. Aku merasa sekarat.

Meskipun aku ingin berteriak, Tuhan berkata di dalam hatiku,”Tidak apa2 Emily. Patuhi mereka. Percayalah kepada-Ku. Percayalah kepada-Ku. Percayalah kepada-Ku.”

Jadi sebagai seorang Kristen, aku melakukan satu-satunya hal yang dapat kulakukan yaitu mematuhi mereka.

“Ma, Pa, sungguh menyakitkan kalian berkata seperti itu. Namun kalian adalah orangtuaku. Aku mengasihi kalian. Walaupun hal itu sangat menyakitkan, aku akan mematuhi kalian dan tidak menemui Dave lagi. Tetapi maukah kalian menolongku?”

“Apa itu Em?”

“Berjanjilah kalian akan berdoa tentang hal itu. Aku ingin laki2 pilihan Allah. Aku merasa sepertinya Dave adalah pilihan Allah. Tetapi jika memang benar, Allah tidak akan memintaku untuk menentang kalian. Aku percaya dia akan menunjukkan kepada kalian jika memang benar Dave adalah laki2 pilihan Allah.”

“Baik Emily. Kami akan berdoa.”

Aku kembali ke kampus setelah liburan semester usai dan putus dengan Dave. Aku benci melakukan hal itu. Aku tidak tahu bahwa dua orang bisa nangis begitu banyak.

“Em, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu”kata Dave.”Tetapi kita membutuhkan restu orang tuamu. Hal itu adalah bagian dari kehendak Allah. Marilah kita membuka hati kita kepada orang lain, memberikan kesempatan kepada Allah untuk mengubah hati kita seandainya kita tidak berjodoh. Tetapi tetaplah berdoa untuk hubungan kita dan supaya Allah mengubah hati orang tuamu seandainya kita memang berjodoh.”

Aku berkencan dengan beberapa cowo, tetapi tidak satupun dari mereka yang sedekat Dave. Mereka semua hanya di permukaan saja. Dave juga berkencan dengan beberapa cewek, tetapi aku tahu dia masih mendoakan hubungan kami.

Musim panas kedua kuhabiskan di Nikaragua selama tiga bulan untuk mengikuti perjalanan misi jangka pendek. Aku kembali ke Houston tepat seminggu sebelum kuliah mulai.

“Ma, Pa, apakah kalian masih mendoakan aku dan Dave?”

“Ya Emili. Kami masih berdoa untuk kalian dan kami yakin bahwa tidak berpacaran dengannya adalah yang terbaik untukmu.”

Aku mau mati rasanya. Aku telah berdoa begitu keras dan berharap begitu banyak bahwa akan ada perubahan mulai dari sekarang.

Aku kembali ke kampus dan tetap menepati janji. Aku terus mematuhi orang tuaku, Kadang2 Dave melihatku menyeberangi kampus, melambaikan tangan, berlari ke arahku dan berkata,”Em, aku masih berdoa. Masih percaya. Tetaplah mematuhi orang tuamu. Kita harus percaya bahwa Allah berkuasa melakukan sesuatu jika itu memang kehendak-Nya.”

Jadi aku terus berdoa. Aku juga terus berkencan dengan orang lain. Demikian juga Dave. Kami tidak menyukai keadaan ini. Aku kembali ke Houston pada liburan Natal. Walaupun aku merasa gembira bisa menjauh dari tugas-tugas sekoalh dan PR selama sebulan, aku tidak bisa berhenti memikirkan Dave. Akankah berhasil? Haruskah aku berusaha untuk melupakannya meskipun aku ingin bersamanya seumur hidup?

Allah adalah nomor satu dalam hidup kami. Kami memiliki tujuan yang hampir sama. Ia sedang mempersiapkan diri menjadi seorang dokter. Sedangkan aku di bidang perawatan. Kami berdua memiliki rasa cinta yang begitu besar terhadap misi.

Sewaktu aku berkemas dan bersiap-siap ke kampus pada akhir liburan semester, orang tua ku masuk ke kamar.

“Em, mari kita bicara.”

Aku menutup tas dan duduk di ujung tempat tidur.

“Emily,”papa mulai berbicara.”Sudah beberapa tahun ini kami sungguh2 mengawasimu. Tampaknya kamu tidak sebahagia dulu.”

“Sinar di matamu telah hilang”, mama meyela.

“Kami telah berdoa untukmu dan Dave,”lanjut papa. “Kamu tahu bagaimana kuatnya perasaan kami. Tetapi, setelah sekian lama kami berdoa dan melihat kepatuhanmu kepada kami sementara kami tahu bahwa kamu merasakan sebaliknya, kami mendengar suara Tuhan dalam arah yang baru.”

“Sekarang kami merasakan adanya damai sejahtera tentang Dave, Em. Allah telah berbicara kepada kami untuk mempercayai-Nya. Ia melimpahi kami rasa damai yang luar biasa terhadap kalian berdua.”

Air mata menggenangi mataku. Aku meraih kedua orang tuaku dan memeluk mereka erat-erat. Mereka juga mulai menangis.
“Emily,” papa melanjutkan. “Terima kasih untuk kepatuhanmu kepada kami. Seandainya kamu bertindak di belakang kami, kami tidak akan pernah memiliki rasa damai seperti ini.”

“Benar sayang,” kata mama. “Terima kasih karena kamu telah bersabar kepada kami dan mempercayai Allah melakukan perubahan. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya bukan?”

Kamu pasti dapat membayangkan betapa girangnya aku kembali ke kampus. Aku dan Dave berlutut di kapel Kampus, menangis dan berdoa selama berjam-jam.

“Inilah harga yang harus dibayar jika kita berjalan dengan cara Tuhan, benarkan Em?” katanya.

Aku menahan tangis dan mengangguk setuju.

Dave dan Emily sekarang memiliki pernikahan yang fantastis dan empat anak yang manis. Dave adalah seorang dokter yang sukses dan seringkali memberikan bantuan medis pada orang yang membutuhkan pada berbagai misi jangka pendek maupun jangka panjang.

Emily mengetahui rahasianya-Jalan Tuhan adalah yang terbaik. Ketika tampaknya berat dan tidak masuk akal, PERCAYALAH KEPADA-NYA. Jika memang kehendak Tuhan, kamu dan dia akan bersatu. Ia cukup berkuasa untuk melakukannya.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Motivation. Bookmark the permalink.

11 Responses to Ketika Orang Tuamu tidak menyukai pacarmu

  1. anggriawan says:

    nice story.. kisah orang-orang yang optimis, sabar, berserah dan taat kepada Tuhan selalu berujung bahagia..🙂

  2. criz says:

    nice story🙂

  3. dave says:

    Wah, menyentuh sekali ceritanya.

  4. peter says:

    aww joice.. jalan Tuhan bukan jalan kita😉

  5. irene says:

    bagusss,, hiks..
    btw mau minjem bukunya dung joice🙂

  6. petra says:

    nice story ^___^

  7. apunk says:

    sukaaaaaaaa

  8. joice says:

    I do not know why i feel that this story is almost same with my life….
    I believe that God has a best choice and plan for me. ^^

  9. sangmane says:

    pacar gak disukai ortu ? just go backstreet … tapi kalo kamu gak yakin. tinggalkan saja pacarmu … hehehe

    ati2 disana .. barusan ada penembakan karyawan freeport

  10. ahmad says:

    so nice story, mengharukan…

    bersabar adalah pilihan terbaik, bahagia pada waktunya…

  11. hukum ke-5…hormatilah kedua orang tuamu

    marvelous🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s