Pahlawan Iman Wanita- Vibia Perpetua (181?-203 M)

Wanita ini hidup di Carthage, Afrika Utara. Orang Kristen Roma telah membawa Injil ke negara   bagian  ini selama masa pemerintahan Kaisar Septimus Severus. Karena Severus begitu khawatir akan bangkitnya Kekristenan, maka ia mengeluarkan pengumuman yang melarang segala bentuk pengajaran atau perpindahan agama. Orang Kristen yang baru percaya kepada Kristus menyadari bahwa kesepatan untuk hidup lebih lama lagi sangatlah kecil atau tak ada sama sekali. Perpetua sangat menyadari hal ini sehingga ketika pembaptisannya ia berkata saat keluar dari air, “Roh Kudus telah mengilhami aku untuk tidak berdoa bagi apa pun selain kesabaran di tenga mengalamai penderitaan secara tubuh”

Perpetua, seorang wanita muda berusia 20-an tahun ini ditangkap bersama lima orang temannya. Saat ia berada dalam penjara, ayahnya engunjunginya berkali-kali sambil memohon agar dia mengakui kesalahannya demi kebaikan ayah dana anaknya. Ayahnya berkali-kali begitu marah kepadanya dan pergi, namun kemudian kembali lagi sambil terus membujuknya dengan cara yang berbeda.

Beberapa waktu kemudian, dua orang diaken berhasil menempatkan Perpetua dan pelayannya, Felicitas daam bagian penjara yang lebih baik. Saat itu Felicitas sedang mengandung delapan bulan dan merasa khawatir bahwa ia tidak akan diizinkan untuk terus berada di arena pertandingan iman bersama teman seiman.

Sesaat sebelu kematiannya,Perpetua menulis,

“Saya menyusui bayi saya, yang sudah begitu lemah untuk makan. Di tengah kegelisahan dan kecemasan saya terhadapnya, saya berbicara kepada ibu saya, dan menenangkan saudara laki-laki saya serta meminta mereka agar dapat merawat putra saya. Dan saya merasa terlalu gelisah sebab melihat mereka gelisah karena saya. Saya menderita kegelisahan dana kecemasan ini selama berhari-hari; dan saya kemudian meminta agar bayi saya tetap bersama saya dalam penjara. Dengan segera saya mendapatkan kekuatan dan terbebas dari kecemasan akan bayi saya, penjara saya tiba-tiba berubah menjadi sebuah istana bagi saya, sehingga saya lebih suka berada di sana daripada tempat lain”

Perpetua mendapat beberapa kunjungan supranatural dari Tuhan dalam penantian menuju kematian. Salah satunya berupa penglihatan dalam jawaban atas doanya bahwa Allah akan menyatakan kepadanya nasib-nasib teman-temannya dan dirinya sendiri:

“Tadi malam dalam sebuah penglihatan, saya melihat tangga emas yang berukuran menakjubkan menjulang ke surga; begitu sempit tangga itu, sehingga hanya satu orang saja yang bisa memanjat. Pada setiap sisinya terdapat bermacam-macam benda terbuat dari besi, pedang, tombak, kail, pisau. Bila ada yang naik ke atas dengan tidak berhati-hati, dagingnya bisa tersobek, dan potongan-potongan akan tersangkut pada benda-benda terbuat dari besi itu. Di bawah tangga terdapat seekor naga berukuran besar , yang memasang perangkap bagi siapa saja yang sedang memanjat, dan menakut-nakutinya dari bawah.

Kemudian, Saturuslah (gurunya) yang pertama kali naik. Ia sudah menerahkan dirinya secara sukarela setelah penangkapan terhadap kami untuk menggantikan kami, karena ia telah mengajarkan kepada kami iman, dan ia tidak hadir pada saat kami diadili. Ketika ia sudah mencapai tangga yang paling atas, ia menoleh dan berkata kepada kami,”Perpetua, saya menunggumu; tetapi berhati-hatilah supaya naga itu tidak menggigitmu.”  Dan saya berkata,”Dalam nama Yesus Kristus, ia tidak akan melukai saya.”Naga itu, seakan-akan takut kepada saya,dengan perlahan-lahan menaruh kepalanya di bawah tangga, dan saa menapakkan kaki saya ke atas kepalanya, seolah-olah saya menapakkan kaki saya pada anak tangga yang pertama.”

Felicitas melahirkan seorang bayi perempuan sebulan lebih awal. Seorang sipir mengejek dia saat ia menderita sakit bersalin,”Jika kamu menangis sekarang, apa yang akan kamu lakukan ketika kamu dilemparkan ke tengah gelanggang sebagai mangsa binatang-binatang buas?”. Felicitas menjawab,”Saya sendiri tidak menderita, tetapi Pribadi lainnya yang berada dalam diri saya akan menderita bagi saya, karena saya rela menderita bagi-Nya.” Bayi perempuan yang lahir dalam penjar aitu dirawat dan dibesarkan oleh saudara perempuannya.

Hari kemenangan mereka tiba, dengan wajah berseri-seri mereka berbaris dari penjara menuju gelanggang seakan-akan mereka dalam perjalanan ke surga. Baik Perpetua maupun Felicitas berjalan dengan bersuka cita sebagai pasangan sejati dari Kristus, kesayangan Allah. Bagi para wanita muda ini, iblis menyiapkan seekor sapi gila, binatang yang tidak biasanya digunakan untuk permainan ini, tetapi dipilih supaya jenis kelamin para wanita itu cocok dengan jenis kelamin binatang itu. Setelah ditelanjangi dan dimasukkan ke dalam jaring, wanita-wanita itu dimasukkan ke dalam gelanggang. Para penonton begitu ngeri saat melihat salah seorang wanita yang masih muda dan seorang lainnya, yang dari payudaranya masih menetes air susu, menandakan bahwa ia baru saja melahirkan seorang bayi.  Oleh sebab itu, kedua wanita tersebut dipanggil kembali dan diberi baju kebesaran.

Perpetua dilemparkan untuk yang pertama kalinya dan jatuh di atas punggungnya. Ia duduk, dan karena lebih khawatir akan kesopanannya daripada rasa sakitnya, ia pun segera menutupi pahanya dengan baju yang sudah tersobek di satu sisinya. Kemudian saat menemukan jepit rambutnya, yang telah terjatuh, ia memasangnya kembali pada rambutnya, sebab ia berpikir bahwa tidaklah sopan bagi seorang martir yang menderita dengan rambut berantakan; mungkin akan terlihat seakan-akan ia sedang berduka di saat kemenangannya. Kemudian ia berdiri. Ketika ia melihat Felicitas terluka parah, ia segera menghampirinya, menarik tangannnya dan menolongnya untuk berdiri.

Kerumunan orang banyak itu meminta agar para tawanan ini dibawa ke tempat yang terbuka sehingga mereka dapat menyaksikan dengan leluasa saat hukuman mati dengan pedang dilaksanakan, secara sukarela para pahlawan iman itu pun bangkit dan berpindah ke tempat yang diinginkan kerumunan orang banyak.

Orang lainnya , tanpa bergerak atau bersuara, dibunuh dengan pedang; namun Perpetua, agar bisa merasakan rasa sakitnya, sabil meraung ketika rusuknya ditusuk pedang, merengkuh tangna gladiator yang gemetar itu dan mengarahkannya ke lehernya. Barangkali karena begitu hebatnya seorang wanita, yang merasa takut kalau ia memiliki roh yang tidak bersih, sehingga tidak bisa disembelih jika ia sendiri tidak menginginkannya.

Sumber: “Women of Destiny”- Cindy Jacobs.

Dengan perubahan seperlunya

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Motivation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s