Be The True Worshipper

By: Pdt. Stefanus Harun

Yohanes 4 : 19-26

Pada pemerintahan Rehabeam, Kerajaan Israel terpecah menjadi dua yaitu kerajaan utara dan kerajaan selatan. Kerajaan utara beribukota di Samaria.  Orang Samaria, yang walaupun masih keturunan Abraham dianggap kafir oleh orang Yahudi karena mereka dianggap meninggalkan perjanjian dengan Allah. Kerajaan utara ini masih memegang taurat namun tidak dapat beribadah di Yerusalem yang terletak di kerajaan selatan.

Bagian Alkitab di atas menyebutkan dua tempat penyembahan. Pertama, Yerusalem. Di Yerusalem ini terdapat Bait Allah, tempat orang menyembah Allah. Kedua, di gunung. Gunung tempat orang Samaria beribadah adalah Gunung Gerizim. Di Gunung inilah Musa mengucapkan taurat tentang berkat (Ulangan 27:12). Kota Sikhem terletak di atnara dua gunung yaitu Gunung Gerizim, tempat Musa mengucapkan taurat berkat dan Gunung Ebal, tempat Musa mengucapkan taurat kutuk (Ulangan 27:13). Karena di Gunung Gerizim ini diucapkan taurat, orang Samaria membuat tandingan Bait Allah di gunung ini.

Gunung dan Yerusalem berbicara tentang: Tempat, harus di mana orang menyembah Allah; Tradisi; Liturgi dan Upacara. Yesus membuat suatu terobosan baru: Bukan di gunung ataupun di Yerusalem. Hal ini sangat menyinggung Ahli Taurat karena menurut mereka tempat ibadah harusnya di Yerusalem karena Yerusalem adalah tempat paling suci.

Yesaya 29:13 –> ibadah yang sering dilakukan oleh masyarakat saat itu. Ibadah yang hanya rutinitas. Padahal Tuhan menginginkan HUBUNGAN. Bukan Gunung atau Yerusalem, tetapi Penyembah. Bukan upacara, tetapi orang dan bukan upacara, tetapi kehidupan. penyembahan bukan hanya sekedar liturgi.

Yohanes 2 : 19 –> Dalam ayat ini, Yeus berbicara mengenai kematian dan kebangkitannya. Tetapi, hal lain yang dapat diambil dari ayat ini adalah Tuhan ingin merubuhkan bait Allah : ibadah yang hanya sebuah tradisi. Yang Tuhan inginkan adalah diri kita, hati kita bukan sebuah bangunan ( I Korintus 3:16).

Yohanes 4:23 mengatakan penyembah akan menyembah dalam roh dan kebenaran. Allah adalah makhluk ROH. Manusia adalah makhluk roh yang memiliki tubuh. Jadi, penyembahan harus dilakukan sesuai dengan hakekat Allah dn hakekat kita.

roh

Hubungan dengan TUHAN – lahir baru

Manusia jatuh ke dalam dosa, artinya roh manusia mati. Padahal, menyembah Tuhan dalam roh. Jadi, apa yang harus dilakukan? Memperbaharui hubungan dengan Tuhan yaitu lahir baru. Jika hubungan dengan TUhan belum diperbaharui, semua kegiatan ibadah hanya kegiatan fisik saja.

Ibadah yang sejati : Roma 12:1

  • Tubuh : tempat tinggal roh dan jiwa. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan.
  • Hidup vs mati – roh yang telah pulih.
  • kudus vs tidak kudus – Untuk Tuhan, tidak ada motivasi yang lain.
  • Berkenan vs tidak berkenan – Tidak bercacat, luka.

Milikilah Roh yang takut dan gentar kepada Allah. Allah memang penuh kasih, dia adalah Bapa yang baik bagi kita. Namun, jangan lupa Dia juga adalah Allah yang menggentarkan. Orang Kudus adalah orang yang segan kepada Allah (mazmur 89:8).

Tidak ada penyembahan yang berkenan tanpa penyembah yang benar. Suasana ibadah ditentukan oleh para penyembah sejati. Bukan dengan naik atau turunnya suasana ibadah, teapi hati penyembah.

faktor penentu penyembahan kita berkenan: hubungan pribadi dengan TUHAN.

kebenaran

  • Mengerti dasar-dasar Firman Tuhan
  • Tidak hanya dengan emosi dan penafsiran sendiri.

Allah tahu semuanya, bahkan apapun yang kita sembunyikan karena dia adalah ROH.

3 Yohanes 1 : 4 –>  hendaklah kita hidup dalam kebenaran.

Hidup dalam kebenaran :

  • Kehidupan pribadi

Kehidupan yang berkenan adalah persembahan yang terbaik. Persembahan ini adalah pertumbuhan iman, kekudusan, ketaatan dan kasih.

  • Kehidupan keluarga

Keluarga yang berkenan adalah ketika hubungan dengan keluarga mencerminkan hubungan dengan Tuhan.

  • Bisnis dan keuangan

Tuhan sangat memperhatikan bagaimana cara kita memperlakukan uang. Apakah kita lebih memilih Tuhan atau mamon. Iblis dapat mencoba kita seperti ia mencoba Yesus dengan uang, kekayaan (Lukas 4 :4-8).

Pujian adalah respon dasar karena kita diciptakan Tuhan dan kita ditebus oleh Nya.

Kapan waktu yang terbaik untuk memui Tuhan?

Ketika kita tidak mau memuji Tuhan yaitu ketika kita berada dalam keadaan yang membuat kita tidak ingin memuji Tuhan, seperti dalam pencobaan, dalam keadaan jelek dan lain-lain. Memuji dan menyembah Tuhan dalam keadaan ini adalah waktu yang terbaik karena di sini ada penundukan, ada korban dan ada ketaatan.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Divinity. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s