Hidup Yang Berarti

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. I Petrus 1 : 18-19

Satu hal yang cukup sederhana, namun saking sederhananya hal ini sering dilupakan. Yaitu arti hidup kita. Apakah hidup kita useful atau useless ?

Ketika Yesus disalib, ia mencurahkan darah-Nya hingga tetes darah penghabisan bahkan lambungnya ditikam sehingga mengeluarkan darah dan air ( Yohanes 19 : 34) bukan hanya memindahkan kita- yang percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat- dari Neraka ke Surga, tetapi juga menebus kita dari cara hidup kita yang sia-sia. Tuhan ingin hidup kita tidak sia-sia, hidup yang bermakna, berdampak. Yesus disalib untuk mengubah hidup kita yang useless menjadi useful, meaninless menjadi meaningful.

Ketika hidup kita berarti , terang kita bercahaya dan menarik orang untuk mengenal Yesus. Lewat hidup yang bermakna, penjangkauan terjadi. Menjadi useful tidak perlu mahal, lewat hal-hal sederhana juga bisa. Buatlah hidup kita bermakan hingga Tuhan berkata kamu worth it untuk ditebus.

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Galatia 6 : 15

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. II Korintus 5 : 17

Agar hidup kita bermakna, kita perlu memiliki benih Kristus dalam hidup kita. Ketika Yesus di dunia, ia memiliki hidup yang bermakna dan berdampak bagi orang sekitarnya. Dengan memiliki benih Kristus dalam hidup kita, hidup kita akan bermakna seperti Yesus yang tidak dipengaruhi mood, keadaan, bersifat temporer tetapi bersifat kontinyu.

Suatu ketika seorang ibu memiliki seorang pembantu yang telah bekerja padanya selama 5 tahun. Pembantu ini sudah telaten karena mendapat didikan yang baik dalam rumah tangga ini. Suatu ketika, teman ibu ini yang di Finlandia mengirimkan e-mail yang berisi bahwa temannya ini membutuhkan seorang pembantu yang ready for use sehingga tidak perlu dilatih dan dididik lagi, selain itu istrinya sebentar lagi akan melahirkan sehingga membutuhkan baby sitter. Nyonya ini berpikir, jika pembantunya bekerja di Finlandia, dia akan digaji 600 Euro/bulan  sedangkan ibu ini hanya bisa memberikan Rp 600.000/bulan. Jadi, alangkah lebih baik kalau pembantunya ini dikirim ke Finlandia pikir nyonyanya. Bahkan pembantu nya dikursuskan bahasa Inggris. Keluarga ini pun merundingkan rencana ini dengan keluarga pembantunya agar lebih jelas.

Beberapa waktu sebelum keberangkatannya, pembantu ini curhat ke ibu ini. Dia mengatakan bahwa dia sangat takut untuk berangkat ke sana, apalagi itu adalah daerah orang. Perjalanan yang paling jauh yang pernah ditempuh pembantu ini hanya dari kampungnya di Lampung ke Jakarta. Bagaimana jika ia tersesat? bagaimana jika ia tidak dijemput? Akhirnya, setelah dirundingkan dengan suami nya si ibu ini, mereka memutuskan agar si ibu mengantar sang pembantu ke finlandia dan menemaninya hingga dia terbiasa.

Pembantu ini bekerja selama satu tahun lebih. Setelah itu, dia pulang ke Indonesia karena kurang betah di negeri orang. Dia berkata kepada majikan laki-laki nya apakah dia masih diterima bekerja. Sang majikan pun berkata, uang yang kamu peroleh di luar negeri lebih dari cukup sehingga tidak perlu bekerja sebagai pembantu dan uang tersebut digunakan sebagai modal. Uang itu dipakai untuk membeli sawah buat bapaknya yang bekerja sebagai buruh tanih, membeli ternak untuk diusahakan oleh abangnya yang pengangguran, juga untuk membangun rumah. Bahkan majikannya pun turut menyumbangkan uang dalam pembangunan rumahnya.

Suatu ketika, bapak dan ibu ini berkunjung ke Bandar Lampung dan pergi ke kampung mantan pembantu nya ini yang berjarak 4 jam dari bandar lampung. Setiba di kampung, mreka disambut oleh orang satu kampung. Mereka pun berbincang-bincang dengan keluarga pembantu ini. Orang tua pembantu ini berkata selama ia dididik oleh bapak dan ibu ini, ia menjadi anak yang lebih sopan, lebih teratur dan lebih baik. Ketika mereka pulang, keluarga pembantunya berkata,”Kiranya Tuhan Yesus menyertai kalian semua”. Saat di mobil, sang pembantu mengirim SMS dan menyelipkan kata GBU. Padahal bapak dan ibu ini tidak pernah mengajak pembantunya ke Gereja atau menceritakan tentang Yesus. Namun, kata pembantu ini ia melihat Yesus lewat bapak dan ibu ini.

Berdampak tidak harus mahal seperti kisah yang di atas. Setiap kita memiliki bagian masing-masing. Keluarga di atas mungkin mampu sampai “semahal” itu, tetapi kita tidak perlu “semahal” itu untuk berdampak. Jadi jangan takut berdampak. Bermakna atau tidak hidup kita itu berbicara mengenai apakah hidup kita berfungsi atau tidak. Milikilah hidup yang berdampak karena Yesus telah menebus kita dari cara hidup kita yang sia-sia

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Divinity. Bookmark the permalink.

One Response to Hidup Yang Berarti

  1. judah says:

    Thanks to you….. Gbu always.!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s