Left to Tell (Yang Tersisa Yang Bercerita)-Mengampuni yang Tak Terampuni

Beberapa dari kita telah menonton film “Hotel Rwanda” yang menceritakan pemusnahan etnis di negara Rwanda. Ketakutan yang mencekam, pemerkosaan terhadap kaum wanita, pembunuhan secara brutal, penyiksaan, banyak yang kehilangan anggota keluarga, rumah, harta benda bahkan kehormatan sehingga seolah-olah nyawa manusia tidak ada harganya lagi. Hal ini dilakukan oleh etnis Rwanda yang merasa lebih baik dibanding etnis yang lain yang sama-sama berasal dari Rwanda.

Buku yang ditulis oleh Immaculee Ilibagiza ini juga menceritakan pemusnahan etnis yang terjadi pada tahun 1994.  Immaculee menceritakan pengalaman hidupnya selama terjadi pemusnahan etnis. Buku ini terdiri atas 24 pasal yang dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan masa kecil penulis dan awal dari pemusnahan etnis ini. Bagian kedua menceritakan pengalaman Immaculee selama di persembunyian. Bagian terakhir menjelaskan akhir dari persembunyian dan menuju kebebasan.

Rwanda merupakan negara di benua Afrika beribukota Kigali. Rwanda memiliki tiga suku. Pertama, Hutu yang merupakan suku mayoritas. Kedua, Tutsi yang merupakan suku minoritas. Terakhir, suku Twa atau Pigmy yang jumlahnya sangat kecil dan tinggal di hutan. Perbedaan antara suku Tutsi dan Hulu agak sulit dilihat. Sedangkan suku Twa, cukup mudah terlihat karena memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan sangat jarang bersekolah sehingga cukup sulit menemukan mereka. Secara umum, orang Tutsi lebih tinggi, berkulit lebih terang dan memiliki hidung yang lebih kecil. Sementara Hutu lebih pendek, lebih gelap dan berhidung lebih lebar. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama yaitu bahasa Kinyarwanda. Memiliki sejarah yang sama. Budaya yang sama. Menyanyikan lagu yang sama. Tinggal dan bercocok tanam di tanah yang sama. Hadir dalam gereja yang sama.

Awalnya kolonial Belgia mendukung aristokrat minoritas Tutsi dan menjadikannya sebagai klas penguasa. Orang Belgia kemudian memperkenalkan kartu identitas etnis sehingga mudah membedakan kedua suku ini. Hal ini menimbulkan perpecahan antara Tutsi dan Hutu dan membuat orang Hutu menjadi dendam. Ketika Tutsi menuntut kemerdekaan, Belgia berubah sikap. Pada tahun 1959, mereka mendukung Hutu untuk mengadakan revolusi berdarah yang menumbangkan monarki. Lebih dari 100.000 orang Tutsi dibantai. Menjelang tahun 1962, ketika Belgia hendak meninggalkan Rwanda, pemerintahan Hutu semakin kuat dan banyak warga kelas dua dari orang Tutsi mengalami penganiayaan, kekerasan dan kematian oleh ekstrimis Hutu.

Immaculee terlahir sebagai anak ketiga dalam keluarga Tutsi yang harmonis dan memiliki tiga saudara laki-laki.  Kedua orang tua nya cukup terpandang di daerahnya. Walaupun tidak kaya, namun keluarganya cukup dihormati oleh orang sekitarnya. Dia tidak pernah diajar mengenai perbedaan atau diskriminasi antara suku Hutu dan Tutsi. Dari kecil, Immaculee dan saudaranya diajar mengenal Tuhan oleh kedua orang tuanya, bahkan ia sempat berpikir untuk menjadi biarawati.

Pada pemerintahan Presiden Habyarimana, dibentuk suatu gerakan pemuda yang disebut Interahamwe yang artinya mereka yang bersama-sama menyerang. Organisasi ini beranggotakan anak-anak jalanan. Organisasi ini berbuat seenaknya, menyiksa dan membunuh orang sesuka mereka. Radio juga digunakan oleh ekstremisme Hutu untuk menyebarkan paham anti Tutsi dan menyebut Tutsi , kecoak yang harus dimusnahkan.

Presiden Habyarimana meninggal pada tanggal 7 April 1994. Pesawat yang ditumpanginya ditembak di udara. Hal ini menjadi awal dari pembantaian massal kaum Tutsi yang luar biasa. Radio mempropagandakan bahwa orang Tutsi yang membunuh presiden sehingga orang Tutsi harus dibasmi. Interahamwe dan tentara bergerak secara brutal. Membakar rumah, menyiksa Tutsi bahkan Hutu yang moderat, membunuh dan memperkosa. Orang Tutsi sulit mencari persembunyian karena pemerintah mendukung pembantaian ini, radio mempropagandakan kebencian terhadap Tutsi. Bahkan tetangga orang Tutsi yang merupakan orang Hutu tidak segan-segan menyiksa dan membunuh mereka.

Ketika pembantaian itu terjadi, kakak tertua Immaculee sedang studi di negara lain sehingga tidak mengalami penyiksaan. Hanya Immaculee dari keluarganya yang masih hidup. Immaculee bersembunyi dalam rumah pendeta Hutu, tepatnya di dalam kamar mandi yang sempit bersama beberapa wanita. Selama bersembunyi, Immaculee membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, dan belajar mendengarkan suara dan tuntunan Tuhan. Selama dalam persembunyian ini, Immaculee dan wanita lainnya harus sangat berhati-hati karena mereka diawasi dari luar oleh imterahamwe, bahkan pembantu di rumah pendeta tersebut.

Pembantaian ini mulai surut ketika pasukan Prancis dikirim ke Rwanda untuk mengamankan negara tersebut. Selanjutnya, pemberontak Tutsi dari Uganda berangkat ke Rwanda untuk menolong saudara-saudara Tutsi mereka. Pemberontak ini adalah orang-orang Tutsi yang melarikan diri pada pemusnahan etnis pertama. Pemberontak ini dikepalai oleh Paul Kagame yang menjadi presiden kemudian.

Atas tuntunan Tuhan agar Immaculee belajar bahasa inggris selama dalam persembunyian, ia bekerja di PBB dan menetap di New York. Di sana ia bertemu suaminya dan sekarang mereka memiliki seorang putri dan seorang putra.

Saya menyukai sejarah, terutama sejarah yang tidak diajarkan di sekolah. Buku ini menarik perhatian saya ketika melihatanya pertama kali. Saya tidak menyesal membeli buku ini. Buku ini sangat menarik dan menguatkan saya bahwa di tengah masalah, penderitaan, cobaan atau penyiksaan Tuhan masih memiliki cara untuk menolong bahkan mempromosikan kita.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

One Response to Left to Tell (Yang Tersisa Yang Bercerita)-Mengampuni yang Tak Terampuni

  1. Rosalina says:

    Pemusnahan etnis di Rwanda terjadi karena suku Hutu menganggap dirinya lebih tinggi daripada suku Tutsi. Fenomena ini sering kali juga terjadi dalam kehidupan kita. Konflik muncul ketika seseorang menganggap diri nya lebih tinggi, lebih berharga, lebih spesial dibandingkan orang lain, padahal di hadapan Tuhan, semua nya adalah sama..sama-sama berharga, spesial, dan unik. Merupakan suatu hal yang wajar bagi Immaculee, yang merupakan korban dari konflik, untuk merasa putus asa, sendiri, dan benci, tetapi karena Ia memandang pada Tuhan, ia tidak merasa ditinggalkan dan ia mampu mengampuni orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Di saat-saat yang tak terduga, seringkali Tuhan memberikan mujizat-mujizat kecil atau bahkan mujizat besar, untuk kembali mengingatkan, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan dan menelantarkan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s