Hati yang Terluka

By : Agus Lutan.

Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: “Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.” Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku.” Maka ia menamai anak itu Simeon. Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi.  Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.Kejadian 29 : 31-35.

Banyak orang di dunia ini terluka. Istri terluka oleh suaminya ( dan sebaliknya), anak terluka oleh orang tua ( dan sebaliknya juga). Jika luka ini dibiarkan, maka luka ini akan menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih parah. Suatu ketika, seorang anak gadis memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai tentara. Anak gadis ini dididik sangat disiplin layaknya militer sehingga membuat anak gadis ini memberontak. Disiplin diperlukan dalam mendidik anak, tetapi diperlukan juga kasih.

Lea adalah salah satu contoh orang yang terluka. Ia terluka karena tidak dicintai oleh suami nya. Dia merupakan korban keegoisan ayahnya, korban adat istiadat dan keadaan. Begitu banyak orang yang tersakiti, yang terluka karena tidak dicintai dan disayang oleh pasangannya. Banyak anak-anak terluka karena tidak merasakan kasih sayang orang tua. Hati manusia gampang tersakiti/terluka karena hati manusia begitu rapuh.

Orang yang terluka umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  •  Suka membandingkan diri dengan orang lain

Semakin kita suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain, maka kita akan semakin terluka karena ketika kita membandingkan diri kita dengang orang lain, kita makin tahu kelemahan kita dan kelebihan orang lain. Hal ini akan menimbulkan rasa mengasihani diri sendiri (self pity). Membandingkan diri dengan orang lain juga akan membuat kita cenderung melebih-lebihkan kehebatan orang lain (over estimate) tanpa tahu keadaan orang itu sebenarnya. Oleh sebab itu, kita perlu sesekali melihat ke bawah agar kita dapat bersyukur dengan keadaan kita. Ketiga, kita tidak dapat melihat proses Tuhan dalam hidup kita. Proses Tuhan bersifat personal, artinya tiap orang dibentuk dengan proses yang berbeda.

“Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!” – II Korintus 10:12. Membandingkan diri sendiri akan menimbulkan kompetisi yang tidak pernah berhenti.  Alkitab mengatakan bahwa membandingkan diri dengna orang lain merupakan sikap yang BODOH.

  • Suka mengeluh

Orang yang terluka cenderung untuk suka mengeluh karena mereka memiliki mental KORBAN. Karena merasa sebagai korban, orang yang terluka ingin diperlakukan lebih. Jika mereka tidak diperlakukan lebih, mereka akan mengeluh. Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi karena Tuhan punya rencana. Jadi, apapun yang kita alami, jangan sakit hati karena Tuhan sedang memproses kita. Mengeluh hanya akan membuat kita fokus kepada masalah, bukan penyelesaian.

  • Cenderung melukai orang lain

Orang yang terluka, cenderung akan melukai orang lain, mengkritik orang lain, mengecam orang lain. Alasana orang mengkritik adalah : karena tidak suka ; meng-kambing hitam-kan orang lain, agar terlihat lebih baik dan mendapat pujian dari orang lain. Dalam membangun hubungan apalagi pernikahan, bangunlah  bukan dengan kritik, tetapi dengan pujian.

  • Bersifat kompulsif

Kompulsif adalah sesuatu yang mendrive seseorang sehingga menjadi perfeksionis. Jadi standarnya bukan baik, tetapi perfect. Orang terluka kecenderungan untuk menjadi perfeksionis untuk menutupi luka mereka. Padalah di dunia ini tidak ada satupun orang yang sempurna, termasuk diri kita sendiri.

Seorang ahli mengatakan bahwa seseorang menjadi kompulsif karena orang tersebut takut ditolak. Orang yang perfeksionis membunuh diri pelan-pelan karena dia menetapkan standar yang tinggi untuk dirinya sendiri padahal dia sendiri tahu tidak ada satupun orang yang sempurna, bahkan dirinya sendiri. Memberikan yang terbaik tidak salah, malah harus tetapi memberikan yang perfect, tidak dapat karena tidak ada orang yang perfect.

Bagaimana menyembuhkan luka? Belajar lah dari Lea. Ketika dia terluka oleh keadaan dan suaminya, dia memilih untuk FOKUS kepada Allah.
Anak pertama Lea adalah Ruben yang artinya Tuhan melihat. Tuhan melihat masalahmu, Tuhan melihat hati mu yang luka. Anak kedua bernama Simeon yang artinya Tuhan mendengar. Apapun masalahmu, Tuhan mendengar. Anaknya yang ketiga ialah Lewi yang artinya Tuhan dekat, Tuhan menemani engkau. He’s our companion. Yesus ketika datang ke dunia sudah merasakan semua yang kita rasakan. Rasa lapar, kedinginan, merasa ditinggalkan, dihina, dan lainnya. Ia telah merasakan hal itu. Tidak perlu ragu datang kepada-Nya karena Ia dekat dengan engkau. Anaknya yang keempat ialah Yehuda yang artinya bersyukur kepada Tuhan. Praise Him! Jangan pernah lupa bersyukur kepada Dia.

Image sources :

http://heartofwisdom.com

http://heartpictures.net

http://bestsonmanurung.blogspot.com

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Divinity. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s