Saya orang Indonesia (Bag.1)

It’s funny when Someone ask me, “Where do you come from?” Because I have a long explanation to tell. I’m native toraja, I was born in UjungPandang ( now, Makassar), I grew up in Jayapura ( I spent several years of my childhood in Toraja and Bandung), I went to college in Bandung, My family is in Malang now, I have been to Cikarang to work and I now live in Jakarta. Well, I’ve been to Tembagapura for 2 months for internship. I’m Indonesian!🙂

Baiklah, saya akan menjelaskan beberapa hal yang saya tahu mengenai kota2 yang sudah disebutkan di atas

1. Toraja

Toraja atau yang lengkapnya disebut Tana Toraja merupakan bagian dari propinsi Sulawesi Selatan. Saat ini, Tana Toraja terbagi menjadi dua kabupaten yaitu Tana Toraja yang beribukota Makale dan Toraja Utara yang beribukota Rantepao. Toraja merupakan derah dataran tinggi yang bergunung-gunung  dan sejuk bahkan dingin.

Alamnya cukup indah menurut saya. Namun, alam yang dimiliki bukan sesuatu yang unik karena daerah lain pun juga memiliki alam yang mirip. Bahkan Toraja tidak memiliki pantai – tujuan wisata yang diminati banyak orang- Walaupun begitu, Toraja merupakan tujuan wisata bahkan wisatawan mancanegara. Wisata yang menarik dari Toraja adalah wisata budaya. Hal ini yang menurut saya tetap menjadi daya tarik wisatawan karena budaya merupakan hal yang unik bukan seperti alam yang hampir tiap daerah memiliki keadaan alam yang mirip. Mulai dari pasar tradisional, perkampungan yang masih mempertahankan rumah adat aslinya, kuburan hingga pesta yang menghabiskan jutaan bahkan ratusan juta.

Beberapa komoditi yang dikembangkan di sana adalah kopi, cengkeh, vanili, coklat, kerbau dan babi.  Kopi toraja merupakan salah satu komoditi yang sangat terkenal dan teman-teman saya penikmat kopi juga mengatakan kopi toraja harum dan nikmat. Masakan toraja cukup sederhana, bumbu yang digunakan juga sedikit tetapi memiliki rasa yang luar biasa. Beberapa di antaranya adalah pa’piong, pangi, burak, pa’piong bo’bo, kapurung, sosok dalle, pangrarang dan sayur bulunangko (beberapa daerah di toraja menyebutnya serena’ko).

2. Makassar

Saya cuma numpang lahir di kota ini dan tidak mengetahui banyak tentang kota ini. Sebab, setiap pulang kampung ke toraja, saya cuma singgah 1-2 hari saja. Namun yang saya tahu, kota ini memiliki wisata kuliner yang luar biasa. Bahkan beberapa orang mengatakan makanan terenak di Indonesia berasal dari kota ini. Coto Makassar dan Es Pisang Ijo adalah masakan Indonesia terenak menurut saya (ya, walaupun sedikit kecewa engan Es Pisang Ijo di Bandung yang dimodifikasi). Selain itu masakan lainnya adalah Es Pallubutung , Es Kacang Merah (saya menemukan es ini di rumah makan makassar, saya tidak tahu apakah asli dari Makassar atau tidak), Pallu Konro , Konro Bakar (apalagi beberapa waktu ini, iga menjadi sajian yang digemari banyak orang), mie titi, pisang epe’ dan ikan bakar.

Banyak orang yang mengira kuah coto yang kental berasal dari santan seperti soto madura. Padahal, bahan yang digunakan adalah kacang tanah bukan santan. Coto paling enak dimakan dengan ketupat apalagi buras (nyaaaammm…).

Makassar adalah pintu gerbang dan kota utama di Indonesia Timur. Di sini, kita dapat menemukan orang-orang Indonesia timur lebih banyak dibanding di Jakarta atau Bandung.Maros, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makassar terkenal dengan roti Maros nya, namun ada kabar yang mengatakan produksi roti maros mulai berkurang. Oleh-oleh khas kota ini adalah kacang disco (mirip dengan kacang telur), otak-otak, sirup markisa, deppa tori’ dan kue jipang (dua oleh-oleh terakhir khas Toraja).

Saya cukup heran dan bangga melihat pertumbuhan Makassar yang pesat. Saya berharap kota-kota lain di Indonesia timur bisa mengikuti jejaknya.

3. Jayapura

Setiap saya mengatakan saya berasal dari Jayapura, orang-orang tidak percaya, heran dan mudah mengingat saya dengan mengaitkan saya dengan Jayapura atau Papua karena saya tidak terlihat seperti orang Papua atau Jayapura. Tetapi saya bangga dengan Jayapura dan saya ingin setiap orang yang bertemu dengan saya, paradigmanya tentang Jayapura berubah.

Ketika mengatakan Jayapura, orang-orang umumnya berpikir Jayapura itu masih hutan, rumahnya honai, orang-orang tidak berpakaian, makanan pokok sehari-hari  adalah sagu karena tidak ada beras, dan berada di sekitar orang-orang primitif (hey guys, Jayapura doesn’t look like that. Even I’ve never seen a man using koteka in Jayapura. Gambaran mengenai papua yang sering diekspos di media adalah perkampungan di Wamena (actually, the know how to wear clothes, dude!), yang menjadikan stereotype bukan hanya wamena, atau jayapura tetapi Papua. Kalau mau lihat beberapa foto jayapura, bisa dilihat di postingan saya yang ini. Postingan lain tentang jayapura juga ada di sini

Apa yang saya banggakan dari Papua? Alam dan Masyarakatnya! Pertama, alam. Alam Jayapura cukup unik menurut saya, karena merupakan gabungan gunung-gunung dan pantai. Dataran Jayapura memang bukan daerah yang rata sehingga agak sulit dalam pembangunan (but, don’t worry, Jayapura is like other cities in Indonesia). Walaupun bergunung-gunung, Jayapura memiliki hawa yang panas seperti kota-kota pinggir pantai pada umumnya. Jayapura memiliki pantai yang indah, menghadap biru nya samudra pasifik dan dikelilingi batu-batu dan pasir pantai yang indah ( feel like heaven!) hanya sayang menurut saya karena kebersihan pantai kurang terjaga. Karena menghadap samudra, pantai-pantai di Jayapura memiliki ombak yang tinggi, sehingga harus hati-hati ketika berenang di pantai.

Kedua, masyarakat. Well, do you know what makes me proud of Jayapura? Its Multicultural Community. Berbagai suku bangsa, budaya bahkan agama bercampur di Propinsi ini, terutama di kota ini. Anda bisa menemukan suku bangsa Indonesia dari ujung Sumatera hingga ujung Papua di sini. Kebanyakan pendatang memang berasal dari Indonesia Timur ( Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara), Jawa, dan beberapa suku di Sumatera yang terkenal suka merantau. Saya tidak pernah merasakan rasisme di sini, bahkan dalam lelucon/joke. Setiap orang menghargai suku orang lain. Saya rasa, tidak ada orang yang mengetahui tentang Indonesia dari barat hingga timur seperti orang-orang di Jayapura-Papua. Selain suku dan budaya yang berbeda, agama yang dipeluk juga berbeda-beda.Tenggang rasa antar agama sangat kuat di kota ini. Bukan hanya umat Kristen yang menikmati ramainya, indahnya, menyenangkannya Natal, tetapi juga pemeluk agama yang lain. Setiap orang merasakan “euforia” Natal. Begitu pula saat Lebaran. Setiap orang mengunjungi tetangga, saudara dan handai taulannya saat Hari Raya setiap agama. Tidak ada rasa canggung mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain. Di sana juga tidak pernah ada larangan membangun rumah ibadah apalagi penutupan bahkan pengrusakan rumah ibadah. I FEEL THE REAL BHINNEKA TUNGGAL IKA there! And I think that every people of this nation should set them as example.

Untuk klarifikasi saja, di jayapura memang ada hutan ( kota-kota besar di Indonesia bahkan di Jawa juga memiliki hutan bukan? kalau tidak, kasian sekali rasanya nasib kota itu) dan hal itu sangat penting demi tersedianya air tanah. Setiap hari kami menjumpai beras di sini.Beras dikonsumsi sehari-hari . Sagu atau Papeda dikonsumsi hanya sesekali. Rumah yang kami gunakan modern seperti kota-kota lainnya. Waktu masih kependudukan Belanda, Jayapura udah maju kok🙂 Kami tidak pernah ketinggalan jauh dibanding orang-orang di belahan Indonesia lainnya. Tidak jarang, kami menjuarai kompetisi tingkat nasional.

Buah Matoa khas Papua

Source Image :

http://www.indowebster.web.id

http://nabire.wordpress.com

http://www.wisatanesia.com

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in My Stuff. Bookmark the permalink.

5 Responses to Saya orang Indonesia (Bag.1)

  1. Bli Fendy says:

    Iriiiiii banget.. Pingin jadi ‘anak Indonesia’ juga..
    Btw kesimpulan disni berarti memang Jawa saja yang kurang Bhineka Tunggal Ika yaa. :p
    Di Bali juga gk kalah, jadi bukan keunggulan Papua. :p

    nice post,, kapan2 ajak jalan2 ke Papua atau sulsel yaa..🙂

  2. Rama Rizki says:

    es kacang merah di palembang juga ada kok😀

  3. joice says:

    @Bli Fendy : wah ga tau juga daerah2 yang lainnya selain Jawa Bli. Yang saya rasain di Jayapura ya itu, bhinneka tunggal ika.
    @Rama : hooh. di Manado juga ada. makanya ga yakin itu khas Makassar

  4. amos says:

    love toraja

  5. Evy Irene Tandungan says:

    Saya jd bangga menjadi orang Toraja, dan tinggal di Jayapura..

    Yang mw visit to Jayapura, saya bsa qok jd pemandu wisata😀😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s