Membuat Pria Menjadi Lebih Sensitif

Salah satu keberatan wanita dari pria adalah pria kurang sensitif. Kurang sensitif di sini maksudnya, sang pria kurang memahami kebutuhan dan keinginan wanita. Oleh sebab itu muncul sebuah kalimat yang umum di kalangan pria, “wanita itu sulit dimengerti”. Pria tidak bisa otomatis mengerti keinginan wanita. Bahkan biasanya wanita memberi tahu sesuatu secara implisit dan hal itu tidak dimengerti pria. Kadang wanita juga ingin pria mengetahui dan mengerti isi hati wanita tanpa perlu diber tahu. Dengan tujuan ini, wanita melakukan berbagai macam cara termasuk melakukan konfrontasi seperti menuntut dan lainnya.

Gary Smalley menjelaskan ada lima prinsip agar pasangan pria anda lebih peka, atau mengingatkan mereka agar lebih peka. Pria akan lebih mudah menerima komentar wanita jika mereka diberitahu komentar dengan lima prinsip berikut.

1. Ekspresikan Perasaan Anda dengan Tiga Sikap yang Penuh Kasih

Belajarlah untuk mengungkapkan perasaan anda dengan kehangatan, empati, dan ketulusan. Kehangatan adalah sikap menerima seseorang dengan ramah. Maksudnya adalah menganggap orang tersebut sangat penting sehingga anda mempedulikannya bukan karena dia pantas mendapatkannya, tetapi karena ia hanyalah manusia. Empati merupakan sikap memahami dan merasakan perasaan orang. Dengan kata lain, dapat menempatkan diri dalam sudut pandang dan posisi orang tersebut. Ketulusan merupakan sikap yang menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh kepada seseorang dan tidak berubah bahkan ketika ia atau keadaan berubah.

Banyak ahli mengatakan bahwa orang yang memiliki ketiga sikap ini dapat membantu temannya dibanding orang yang tidak memiliki ketiga sikap ini. Oleh sebab itu para psikiater harus memiliki ketiga sikap ini agar pasiennya mau menerima bantuan yang mereka tawarkan.

2. Ceritakan Perasaan Anda ketika Marah atau Jengkel TANPA Menggunakan Kata ENGKAU

Kata engkau biasanya menyebabkan pria melindungi dirinya dan menentang atau bahkan meninggalkan anda tanpa menyelesaikan masalah. Menurut Dr.Jerry R.Day , kata ini membuat dia semakin bersikeras untuk melanjutkan kemauannya sehingga membuat anda kalah dalam situasi tersebut.

Contohnya. Kalimat “Dapatkah engkau memperhatikan perasaanku sekali-sekali?” Akan membuat pria berpikir, “Perasaanya! Bagaimana dengan perasaanku?”

Contoh lainnya. “Engkau tidak bisa ya bangun lebih awal dan mengurus anak-anak sekali ini?” Membuat pria akan berpikir,”Apakah dia tidak tahu betapa kerasnya aku bekerja bagi keluarga ini setiap hari. Sekarang dia bahkan ingin aku melakukan pekerjaannya.”

3. Tunggu hingga Amarah atau Rasa Jengkel Reda sebelum Anda Memulai Pembicaraan yang Sensitif

Ketika anda marah, apapun kalimat yang keluar dari mulut anda atau bagaimanapun cara anda mengutarakannya, dapat menimbulkan reaksi yang salah dalam dirinya. Tetaplah diam atau ubah topik pembicaraan ke hal lain yang dapat anda bicarakan, sementara anda menunggu reda. Jika pasangan anda ingin mengetahui alasan anda diam atau mengubah topik pembicaraan, jelaskan kepadanya bahwa anda perlu waktu untuk memikirkan hal tersebut lebih mendalam sehingga anda memahami perasaan anda.

Berurusan dengan amarah merupakan hal yang sulit dan mungkin amarah sulit dihindari. Meskipun demikian, hindarilah membicarakan sesuatu yang sensitif ketika anda sedang marah. Dengan demikian, anda dan pasangan anda tidak melontarkan kata-kata yang menyakitkan.

4. Ketika Anda telah Tenang, Gantilah kata ENGKAU dengan pernyataan AKU RASA

Jika pasangan anda tidak datang tepat waktu , daripada  mengatakan kepadanya, “Engkau tidak pernah datang tepat waktu”,  lebih baik menyambutnya dengan kalimat yang penuh pengertian misalnya, “Pasti hari ini sibuk”, atau “kamu pasti lelah ya?”. Tunggu ketika dia sedang santai (  mungkin beberapa saat atau hari kemudian) , ceritakanlah perasaan anda dalam konteks keunikan anda sebagai wanita. Ceritakanlah perasaan anda secara kreatif dalam konteks yang positif.

Belajarlah untuk menceritakan perasaan anda dengan tenang sehingga anda melenyapkan kecenderungan pasangan anda untuk memberikan reaksi marah yang tajam. Hal ini tidak instant, butuh waktu. Jika dilakukan dengan tekun, kita bisa melihat perubahan. Anda harus menceritakan perasaan anda kepada pasangan anda secara terus menerus hingga ia mengerti. Ceritakanlah berulang-ulang bahwa tindakannya membuat anda tidak berharga. Mungkin ia akan membela tindakannya pada awalnya. Atau mungkin mengatakan kepada anda bahwa perasaan anda tidak benar atau logis. Terus katakan kepadanya bahwa anda tidak berusaha membenarkan perasaan anda, anda hanya menjelaskan kepadanya dengan jujur.

5. Jangan Menggunakan Pernyataan APA KATAKU

Kata-kata apa kataku menunjukkan kesombongan dan pemusatan pada diri sendiri. Oleh sebab itu kata-kata dalam variasi apapun harus dihilangkan. Beberapa variasi dari kata-kata ini adalah:

“Lihat kan!”

“Seperti yang sudah aku kira!”

“Tuh kan! Kalau misalnya kamu lakuin apa yang aku bilang”

“Nah, puas kamu?”

Mungkin saja, pada awalnya anda mengalami kegagalan ketika menerapkan prinsip-prinsip ini. Namun, jangan frustasi. Ingat, apa yang anda tabur, itu yang anda tuai.

Anak-anak lebih mudah mengikuti teladan yang diberkan orang tua nya ketika mereka melihat orang tua nya juga melakukan hal itu daripada apa yang didengar dari orang tua mereka. Begitu pula dengan hubungan suami-istri, pacar. Ketika pasangan anda melihat sifat-sifat ini dalam diri anda, dia juga akan terdorong memiliki sifat-sifat tersebut.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi  perkataan yang pedas membangkitkan amarah

Amsal 15 :1

Referensi : “Alasan Tersembunyi” oleh Gary Smalley

(Spoiler : Buku ini dibuat untuk dibaca oleh wanita sehingga mengerti sikap dan pola pikir pria sehingga mengetahui bagaiman seharusnya bersikap dan bertindak terhadap pria. Gary Smalley juga menulis sebuah buku, Seandainya Ia tahu, buku yang perlu dibaca oleh pria agar lebih memahami wanita * bukan blog berbayar*)

Sumber gambar :

http://www.zankyou.com

http://www.casafree.com

http://happy-pictures.net

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Psychology. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s