Holiday in Bandung ( 2nd Day)

1. Gasibu

Gasibu di hari minggu berbeda dibanding hari lain karena hari minggu  Gasibu dipadati oleh penjual baik pakaian, makanan, bahan makanan, tas, sepatu dan berbagai barang lainnya. Setiap minggu memang ada pasar kaget di Gasibu ini dan selalu menjadi tempat tujuan mahasiswa dan warga sekitar untuk mencari barang-barang murah. Sayur-mayur dan buah-buahan yang dijual di pasar ini sangat murah. Apakah karena penjualnya adalah petani nya langsung atau karena lagi diskon? saya tidak tahu😀 Namun, berlawanan dengan harga sayur mayur, harga makanan yang dijual sedikit lebih mahal dibanding tempat lain. Mungkin saja karena banyak pengunjung maka penjual ingin memperoleh keuntungan sedikit lebih tinggi dibanding tempat lain.

Mengunjungi Gasibu kali ini, saya berencana mencari Surabi dan Kue untuk-untuk. Banyak penjual kue surabi di Jl.Setiabudi namun topping nya sudah memiliki variasi yang jauh dari surabi tradisional menurut saya. Oleh sebab itu, saya ingin mencari surabi “tradisional” yang biasa nya diberi topping oncom atau gula merah. Dulu ketika kuliah, saya pernah mencoba surabi yang diberi topping gula merah ( gula merahnya adalah topping seperti oncom, bukan kinca).

Banyak yang tidak tahu bahkan belum mendengar kue untuk-untuk. Kue ini berasal dari Banjarmasin. Bentuknya sederhana, berupa roti goreng yang diisi kacang hijau namun rasanya sangat nikmat apalagi dinikmati selagi hangat. Seingat saya, penjual untuk-untuk biasanya berjualan di Gasibu pada hari Minggu. Teman saya memberi tahu saya bahwa penjual ini bisa ditemui di Simpang Dago pada hari biasa. Biasanya ibu yang berjualan kue untuk-untuk ini mulai berjualan sekitar jam 5 pagi.

Setiba di gasibu, saya berkeliling melihat-lihat penjual sambil mencari penjual kue untuk-untuk di tempat biasanya. Namun sayang kami tidak menemukan penjualnya. Kemudian sambil berharap bertemu penjual untuk-untuk, kami berkeliling dan juga mencari penjual kue surabi. Akhirnya kami menemukan penjual surabi ini.

Tungku Surabi

Surabi yang dijual adalah surabi omcom, surabi keju-coklat ( sudah agak modern rupanya ), surabi manis ( surabi + kinca yang terbuat dari gula merah dan santan)  dan surabi yang terbuat dari telur. Sayangnya saya tidak menemukan surabi bertopping gula merah.  Mengenai penjual kue untuk-untuk, info yang kami dapat adalah si ibu memang menjual untuk-untuk di Gasibu hanya spot nya berbeda dengan yang dulu. Sekarang, si ibu berjualan di tangga-tangga yang dekat Gedung Sate.

2. Simpang Dago

Setiap pagi, banyak penjaja makanan berjejer di tempat ini. Mulai dari nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, kupat tahu, bubur ayam dan makanan lainnya yang biasa dijadikan menu sarapan. Ketika malam, tempat ini tidak kalah ramai dibanding pagi hari bahkan lebih ramai. Tempat ini menjadi pilihan banyak mahasiswa yang mencari makan malam.
Dari Gasibu, kami kemudian ke Simpang dago untuk mencari sarapan.Teman saya membeli nasi uduk di penjual langganannya sedangkan saya yang “ngidam” lumpia basah langsung mendatangi penjual lumpia basah langganan teman saya. Mungkin berbeda dengan daerah lain, lumpia basah yang dijajakan di bandung biasanya terdiri dari tauge dan bengkoang yang ditumis dengan bumbu . Biasa juga ditambahkan telur dan bahan-bahan lainnya sesuai selera pembeli seperti sosis, ayam , bakso. Hasil tumisan kemudian dibungkus dengan kulit lumpia. Lumpia basah ini menjadi favorit mahasiswa juga. Ada penjual Lumpia basah di belakang kampus saya yang selalu ramai dikunjungi mahasiswa. Namun, karena hari minggu kami berasumsi bahwa dia tidak berjualan. Oh iya, ngomong-ngomong masalah belakang kampus, ada jajanan yang sempat booming yaitu pisang karamel. Tetapi saya tidak tahu sekarang apakah masih booming atau tidak. Selain itu, ada juga penjual ayam kolgo(kol goreng). Ayam goreng nya enak dan kol yang biasa menjadi peneman ayam goreng , digoreng sehingga memiliki rasa yang lebih nikmat dibanding kol mentah.

Dari penjual makanan di simpang dago ini lah saya tahu bahwa ibu penjual untuk-untuk menjajakan jualannya di gasibu dekat dengan gedung sate pada hari minggu dan tidak berjualan jika libur. Kalau hari biasa, si ibu biasa berjualan dari jam 5 di Simpang Dago.

3. Amareto

Tempat makan yang beralamat di Jl.Ciumbeuleuit ( sebelah Yomart) merupakan langganan saya dan beberapa mahasiswa ( menurut saya mahasiswa UNPAR karena berdekatan dengan kosan mereka😀 . Mungkin saja ada mahasiswa dari PT lain😀 ). Masakan yang ditawarkan adalah Chinese food : udang, ayam, ikan, tahu dan cumi yang dimasak ala Chinese food. Rasanya enak dan recommended menurut saya. Harganya berkisar belasan ribu rupiah. Tempatnya nyaman dan banyak tersedia komik serta majalah. Tidak heran, banyak mahasiswa khususnya mahasiswa cowo yang betah berlama-lama di sini.

Kali ini saya ingin mencoba nasi goreng nya karena kunjungan-kunjungan sebelumnya saya sudah mencoba masakan lainnya yang dimasak ala Chinese Food.  Nasi goreng yang saya pilih adalah Nasi goreng kampung. Nasi goreng ini menggunakan terasi dalam bumbu nya. Jika masakan lain disajikan dengan piring biasa, nasi goreng disajikan dengan wajan kecil ( tapi wajannya tidak hitam kok🙂 )

4. Sop Buah

Malamnya, saya ke Simpang Dago (lagi!) berburu (halah!) sop buah. Banyak orang yang sulit membedakan antara sop buah dan es shanghai. Sepintas memang mirip : potongan beberapa jenis buah ( apel, timun suri, semangka, melon, alpukat, klengkeng, stroberi, anggur, kelapa muda dan buah lainnya tergantung penjualnya, bahkan durian) dalam air gula dan susu kental manis. Namun yang saya amati adalah, pada sop buah ada potongan agar-agar dan/atau rumput laut sedangkan es shanghai hanya potongan buah. Ada juga yang mengatakan bahwa perbedaannya terletak pada potongan buah : potongan buah es shanghai lebih besar dibanding sop buah. Well, so far rasa dan penampakannya sama saja.

5. Colenak

Masih di Simpang, saya berjalan sedikit ke arah penjual colenak. Biasanya penjual colenak juga menjual jagung bakar, roti bakar dan pisang bakar dengan aneka topping/rasa. Colenak berbahan dasar peuyeum ( tape singkong ) yang dibakar kemudian disajikan dengan topping nya yang mirip dengan unti (isi bakpao) yaitu parutan kelapa yang dimasak dengan gula merah. Sensasi rasa bakarnya kurang menurut saya, masih seperti peuyeum yang tidak dibakar dan topping nya terlalu manis ( well, itu tergantung penjualnya sih). So far, colenak tidak begitu jauh dengan peuyeum. Karena dibakar, peuyeum yang digunakan adalah peuyeum yang keras ( tidak lunak) sedangkan menurut saya, peuyeum yang enak adalah yang lunak😀

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Culinary & Cooking, Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s