Antara Kerukunan Umat Beragama di Indonesia dan Tindakan Anarkis

Hari ini TimeLine Twitter saya dipenuhi topik tentang masyarakat Dayak di Kal-Teng yang menolak FPI ( di sini) dan akun twitter yang disinyalir mengadu domba antar umat beragama. Kalau ngomongin masalah ini ( baca : terutama yang disebutin pertama) pasti ujung-ujungnya ke masalah tindakan anarkis dan kerukunan umat beragama. Saya ingin berbagi sebuah pengalaman mama saya mengenai kerukunan umat beragama di Twitter tapi karena akan menghasilkan banyak tweet sehingga membuat beberapa orang tidak nyaman, akhirnya saya share di sini saja🙂

Suatu waktu mama saya mengunjungi pusat Gereja yang biasa tempat dia beribadah di Malang. Pusat gereja ini di Surabaya. Ketika pembukaan acara, tampak di bagian depan ( biasanya sih tempat orang-orang penting) terdapat beberapa kyai yang duduk berjejer sebagai tamu undangan. Bahkan yang menjaga keamanan di luar adalah pemuda-pemuda dari organisasi muslim. Selain itu, para peserta yang berasal dari luar kota diberikan tempat menginap di Asrama Haji. Bahkan ketika gereja ini sedang membangun salah satu gedungnya, juga membantu pembangunan salah satu gedung organisasi muslim tersebut ( hmmm… asrama haji atau apa ya?)

Saya juga pernah membaca cerita tentang seorang pemuda yang berani. Namanya Riyanto ( bisa dibaca di sini dan di sini juga), dia tewas karena bom yang meledak di Gereja tempat dia menjaga keamanan. Riyanto ini bukan pemuda Kristen, tetapi anggota Organisasi muslim yang menyatakan sikap mereka yang menghargai agama lain lewat perbuatan nyata. Masih banyak lagi contoh-contoh nyata mengenai kerukunan beragama di negara ini. Kota Fak-Fak di Papua contohnya. Jika dianalogikan dengan tungku yang memiliki tiga batu, tiga batu ini yang sebagai fondasi harus kuat sehingga tungku ini bisa kokoh. Tiga batu ini adalah agama yang penganutnya paling banyak di kota ini yaitu Kristen, Islam dan Katolik.

Sayangnya, bangsa ini mulai hilang rasa kerukunan antar umat beragama bahkan tidak sedikit yang melakukan tindakan anarkis. Mungkin mereka lupa bahwa semboyan negara ini adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan mungkin mereka lupa isi UUD 1945 pasal 29 yang berbunyi :

(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Ayat pertama menunjukkan bahwa Negara ini ber-Tuhan yang seharusnya penduduknya menunjukkan sikap dan moral sebagai orang yang ber-Tuhan. Negara ini berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara tertentu. Ayat kedua memberi jaminan kepada setiap orang di bangsa ini untuk memeluk agamanya dan beribadah. Sayangnya, beberapa orang menjadi sok pintar dan main hakim sendiri, menganggap diri paling benar. Well, every religion claims that it is the right religion. You’re not wrong to think about that, but you aren’t given the right to judge even do anarchisct action to other that different with you.

Yuk, mari kita menjaga kerukunan antar umat beragama dan menghargai orang lain yang berbeda dari kita karena berbeda itu indah🙂

 

 

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in My Stuff. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s