Bagaimana nasib anak saya kelak?

Salah seorang teman saya, Petra membagikan sebuah artikel yang walaupun cukup penting untuk orang tua bahkan calon orang tua, tetapi membuat setiap orang yang membaca miris karena hal ini berhubungan dengan penerus bangsa.

Berikut adalah potongan artikelnya :

Mungkin buat yang follow twitter gue, tau tentang kasus keponakan gue yang berusia 7 tahun dan diperkosa oleh tetangganya yang masih berusia 11 tahun.  Mungkin pada tau betapa sedih dan nelangsanya gue denger kabar itu.

Memang sih, keponakan gue ini bukan keponakan langsung. We’re only related by marriages. Karena silsilah keluarga yang complicated, supaya adil gue panggil ibunya tante, dan anaknya keponakan.

Menurut tante gue, anaknya si N ini gak berani cerita soal peristiwa laknat itu ke sang ibu. Dia cuma berani cerita ke sahabatnya di sekolah. Untung si sahabat cerita ke ibunya, yang langsung manggil tante gue. Saat dikonfirmasi, N ngaku dengan bilang “Ma, kata Kak R (pelaku), aku dient*tin.” Hati ibu mana sih yang nggak hancur dengernya bok?

Untuk artikel lengkapnya, bisa diklik di sini

Setelah membaca artikel tersebut, apa yang anda rasakan?
Syok? Pusing? Miris? Lunglai?

Sebenarnya ( kata teman-teman saya juga), sesuatu yang tidak wajar ini sudah ada bahkan sejak kita SD ( and I admit it) namun sepertinya tidak separah jaman sekarang. Rasanya, perkembangan teknologi berbanding terbalik dengan perkembangan moral.

So what should we do? Saya memang belum mempunyai anak, bahkan menikah saja belum ( well, some of you must be same with me :p ). Namun, tentu saja hal ini tidak luput dari perhatian saya karena beberapa waktu lagi saya akan menjadi orang tua.

Apakah kita harus mengurung anak-anak kita? ga boleh melihat dunia luar? ga boleh bergaul?Well, saya rasa kita perlu belajar psikologi anak, perkembangan anak saat ini. Intinya, kita perlu update mengenai anak-anak. Metode yang diterapkan jaman dulu ke anak-anak belum tentu bisa diterapkan ke anak-anak saat ini.

Menurut saya, menjadi sahabat anak-anak dan tidak ingin mengekang mereka merupakan pilihan yang terbaik. Sejauh ini, saya rasa metode ini paling sesuai😀 * I never know until I have my own*.Saya punya beberapa alasan untuk pernyataan ini. Pertama, saya ingin membuat anak-anak saya merasa nyaman dengan saya sehingga mereka terbuka kepada saya. Jadi, daripada saya menginterogasi mereka mengenai teman-teman mereka siapa saja, mereka ke mana saja, apa saja yang mereka pikirkan, lebih baik saya membuat mereka nyaman dan tidak merasa takut untuk menceritakan apapun yang terjadi atas mereka, apa yang mereka pikirkan dan apapun yang ingin mereka tahu. Ketika ada sesuatu yang salah dari imajinasi bebas mereka, atau perilaku mereka saya akan memberi tahu dengan baik. Jika memang perilaku mereka cukup kelewatan dan perlu diberi hukuman, saya rasa hukum dapat
diberikan.Hukuman memang lebih efektif diberikan kepada anak-anak dibanding remaja namun, hukuman bukan hal yang penting dan diberikan ketika memang dibutuhkan. Saya pernah mendengar orang tua yang membuat sebuah perjanjian dengan anak mereka,
kesalahan apa saja yang mereka lakukan yang perlu dihukum. Pertama-tama, tentu saja teguran namun jika masih bebal, hukuman diberikan. Menurut saya, lebih baik mereka diberi tahu kenapa mereka salah hingga mengerti dan akibatnya bagaimana sehingga mereka dapat mengetahui dan memutuskan bahwa hal itu salah daripada mereka tidak melakukan hal tersebut hanya karena takut dihukum.

Menjadi sahabat anak-anak bukan berarti memanjakan mereka, memberikan kekebasan yang tidak bertanggung jawab dan membuat
mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Kedisiplinan dan ketegasan perlu diberikan juga kepada anak-anak. Mereka harus tahu bagaimana dampak tindakan mereka, mana yang benar mana yang salah, dan mengajarkan bahwa segala sesuatu belum tentu
dapat dicapai dengan mudah. Mengajarkan mereka menjadi pribadi yang kuat, memiliki integritas dan value- value yang penting dalam hidup.

Tidak mengekang mereka juga merupakan salah satu sikap sebagai orang tua yang menurut saya penting dimiliki. Ada ucapan seperti ini, “peraturan/larangan dibuat untuk dilanggar” atau ,”semakin dilarang, malah semakin ingin dilakukan” Saya rasa dan saya alami, semakin dilarang semakin penasaran dan keinginan untuk melakukan hal yang dilarang itu semakin besar.

Seorang supervisor saya di kantor pernah membagikan hal ini :
Otak kita dibagi atas dua bagian : Otak sadar dan Otak tidak sadar. Otak sadar kita sekitar 20 – 22 % sedangkan Otak tidak sadar kita 78-80%. Otak tidak sadar kita ini yang mempengaruhi perilaku kita.Otak tidak sadar tidak dapat menerima kalimat negatif ( kalimat yang mengandung kata negatif seperti tidak, jangan, anti,dll). Ketika Otak menerima kalimat negatif, maka kata negatif akan dieliminasi dan yang tinggal adalah sisa kalimat tersebut. Oleh sebab itu, semakin dilarang maka kecenderungan akan semakin ingin melakukan. Saat ini, metode pengajaran anak-anak adalah tidak melarang mereka melakukan sesuatu. Usahakan mengubah kalimat tersebut menjadi kalimat negatif.

Well, bagaimana dengan anda, khususnya yang sudah menjadi orang tua? Bagaimana metode mendidik anak yang anda terapkan?

Images were taken from :

http://fpipe.org/en/parents-committee/

http://fuse.in.th/showcase/story/4064

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in My Stuff. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s