Novel Review : Entrok (Okky Madasari)

DSC_0040Pertama kali melihat sampulnya yang “lugas” tetapi dengan judul yang menurut saya adalah nama seseorang (namun setelah dibaca saya mengetahui bahwa judul itu sesuai dengan sampul) . Saya malah berpikir ini bukan novel erotis tetapi memiliki makna yang dalam dan tidak mudah tertebak soalnya sampul, judul dan sinopsisnya sedikit tidak nyambung. Jadi pasti ceritanya tidak tertebak seperti cerpen di sini .

Ide yang diangkat dalam novel ini bukan ide yang sederhana tetapi ide yang cukup kompleks menurut saya karena mengandung konflik yang tidak mudah. Tokoh dalam novel ini adalah dua perempuan, yang satu adalah ibu dan yang satu adalah anak. Mereka hidup di sebuah dusun kecil dekat Madiun di zaman orde baru. Ketika itu, PKI adalah momok bagi setiap orang. Orang-orang takut dianggap PKI sehingga setiap orang yang melawan pemerintah dan tentara akan dicap PKI.

Cerita ini dimulai saat sang ibu masih kanak-kanak yang beranjak menjadi remaja. Kemiskinan dan terutama entrok menjadi motivasi sang ibu menjadi pekerja keras dan mau melakukan apapun untuk mendapatkan uang. Saat itu sudah lumrah kaum pria memiliki gundik/istri simpanan. Sang istri hanya bisa patuh dan menerima dengan lapang dada. Perempuan harus benar-benar “patuh” dan tidak dapat menyampaikan pendapatnya mengenai hal tersebut dan lainnya. Akibatnya, perempuan yang dimadu tidak berani menentang perilaku suami itu tetapi membenci gundik suami.

Sang ibu masih memegang teguh kepercayaan kuno Jawa dan taat melakukan setiap ritualnya. Sedangkan anak perempuannya yang bersekolah, belajar mengenai agama di sekolah. Sang anak pun menganggap jijik ibu nya karena dianggap berdosa. Jarak kedua insan ini pun semakin besar. Bahkan ketika setelah menikah, komunikasi antara ibu dan anak ini putus.

Banyak pekerjaan yang dilakoni oleh sang ibu termasuk pemiutang orang lain. Walaupun dibenci dan ditentang orang banyak mengenai profesinya ini, bisnisnya tetap lancar bahkan orang yang menentang ikut meminjam uang.

Masyarakat yang suka menghakimi, kaum agama yang fanatik  bersikap eksklusif, hanya tahu isi agama tanpa melakukannya, pemerintah dan tentara yang semena-mena dan sensitifnya isu PKI membuat konflik dan cerita dalam novel ini menarik dan tidak datar sehingga tidak membosankan. Sebagian besar cerita diambil dari sisi sang ibu dan beberapa bagian diambil dari sisi sang anak. Akhir cerita dibuat sedikit menggantung.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s