Gadis Pantai oleh Pramoedya Ananta Toer

DSC_0074Zaman Feodalisme dan Zaman kependudukan Belanda merupakan salah satu latar waktu favorit saya dari sebuah novel. Novel ini sebenarnya adalah bagian pertama dari sebuah Trilogi. Sayangnya, kelanjutan Gadis Pantai hilang yang disebabkan oleh Angkatan Darat. Novel ini bisa ada karena didokumentasikan oleh Universitas Nasional Australia (ANU) lewat seorang siswi yang mengambil tesis mengenai karangan Pramoedya Ananta Toer.

Novel ini dimulai dengan deskripsi singkat mengenai sang gadis sendiri sehingga pembaca dapat membayangkan rupa sang gadis. Selanjutnya deskripsi singkat mengenai perkampungan nelayan tempat sang gadis bertumbuh.

Cerita kemudian dilanjutkan dengan prosesi pernikahan sang gadis dengan salah satu pembesar. Menikah di usia yang sangat belia yaitu 14 tahun, sang gadis dinikahkan dengan sebuah keris yang mewakili suaminya, Sang Bendoro. Setelah menikah, si gadis diantar oleh keluarganya ke rumah Sang Bendoro dan meninggalkan kehidupannya yang ceria, yang sederhana namun bahagia di kampung nelayan.

Karena dinikahkan dengan keris, sang gadis belum melihat suaminya hingga diantar ke rumah suaminya. Setibanya di rumah Bendoro, ia bertemu seorang bayi yang merupakan anak dari selir sebelumnya. Si ibu diusir ke kampung dan harus berpisah dengan bayinya yang harus tetap tinggal di rumah Sang Bendoro.

Bagaikan burung di dalam sangkar mas, si gadis dilimpahi kekayaan, tinggal di rumah yang besar dan dilayani oleh pelayan namun ia merasa kesepian karena tidak bebas bertemu suaminya dan tidak ada teman berbagi cerita dengannya kecuali pelayan. Semua terasa ada jarak.

Dengan menjadi istri pembesar, dia dihormati oleh orang sekampungnya bahkan bapak dan emaknya menghormati layaknya kepada pembesar. Walaupun dihormati seperti itu, ia merasa kurang nyaman karena orang-orang yang dia kenal dari kecil bahkan bapak dan emaknya terasa jauh.
Tidak sedikit usaha untuk menyingkirkan Mas Nganten (begitu panggilan kepada si gadis) agar keluar dari rumah bahkan membunuhnya. Sang pemberi perintah malu karena Sang Bendoro masih perjaka. Ya, Bendoro dianggap perjaka hingga ia menikah dengan wanita sederajat dengannya. Selir-selir yang selama ini melayaninya tidak dianggap sebagai istri. Hanya pelayan kebutuhan hasrat sang Bendoro.Untungnya, dia lolos dari semua rencana itu.

Akhir cerita, Mas Nganten kemudian hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Namun sayangnya, dia dicerai setelah tiga bulan melahirkan bayi. Bahkan yang lebih menyakitkan, dia dipaksa pisah dengan bayinya. Karena malu, dia tidak kembali ke kampung nelayan tetapi ke Blora.
Seharusnya sekuel gadis pantai dimulai ketika dia pergi ke Blora tetapi sekuel yang menusuk feodalisme dimusnahkan.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

6 Responses to Gadis Pantai oleh Pramoedya Ananta Toer

  1. nate says:

    weh, jarang2 nih orang yg suka novel sejarah, apalagi indonesia🙂

  2. joice says:

    Kalau dikemas dalam roman yang bagus dan menarik kenapa tidak?🙂

  3. Tedy T says:

    udah baca tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya belum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s