Tetralogi Pulau Buru : Bumi Manusia

Saya mengetahui Pramoedya Ananta Toer adalah seorang novelis di mana novelnya berkisah tentang masa perjuangan. Suatu bentuk pembelajaran sejarah yang lugas dan dikemas dalam sebuah novel sehingga lebih mudah untuk dicerna. Saya pernah mendengar nama Nyai Ontosoroh yang merupakan seorang wanita pribumi dan gundik dari seorang Belanda. Namun wanita ini bukan wanita biasa. Dia dikenal sebagai wanita yang tangguh dan kuat. Ternyata, wanita ini banyak diceritakan dalam novel Bumi Manusia.

Baiklah, kita mulai dari awal. Novel ini berkisah mengenai Hindia Belanda sekitar tahun 1898 dan 1918 yang jarang disentuh oleh Sastra Indonesia. Tokoh utama dalam novel ini adalah Minke (baca : Mingke), sounds like East Indonesia name I thought for the first time. Dia ternyata adalah seorang pribumi yang sedang berskolah di H.B.S, sejenis sekolah lanjutan zaman kependudukan Belanda. Tidak semua orang dapat bersekolah di sekolah bergengsi tersebut jika bukan Belanda totok atau Belanda peranakan. Ya, dia dapat bersekolah di sana karena dia adalah Raden Mas, keturunan bangsawan Jawa.

Minke digambarkan sebagai seorang pemikir, cerdas dan berjiwa entrepreneurship. Dia memiliki seorang sahabat yang cukup jauh perbedaan umurnya yaitu Jean Marais seorang perancis. Mereka bekerja sama dalam usaha perabotan. Saya bangga karena sejak muda dia memiliki jiwa entrepreneurship. Permulaan Mingke bertemu Nyai Ontosoroh adalah ketika seorang teman sekolahnya, Robert mengajaknya , lebih tepat menantangnya untuk pergi ke Wonokromo mengunjungi sahabat Robert yang bernama Robert juga. Ternyata Robert ini adalah anak Tuan Herman Mellema. Sebelum bertemu, Minke pernah mendengar namanya karena ia memiliki Perusahaan pertanian, Boerderij Buitenzorg. Selain itu ia memiliki gundik (disebut Nyai) yang dikagumi banyak orang karena pengendali perusahaan besar itu. Namanya Nyai Ontosoroh karena orang sulit menyebut Buitenzorg.

Tantangan Robert kepada Minke adalah untuk merebut hati anak perempuan Tuan Herman yaitu Annelies Mellema. Sepertinya Minke jatuh cinta kepada Annelies pada pandangan pertama. Bagaimana tidak, Annelies sangat cantik seperti yang dideskripsikan oleh novel ini. Pendek kata, kedua insan ini saling jatuh cinta. Sang ibu, Nyai Ontosoroh kemudian mengajak Minke untuk tinggal di rumahnya.

Nyai Ontosoroh sangat jelas dideskripsikan dalam novel ini. Dia terlihat terpelajar dan cenderung berperilaku seperti wanita Belanda. anneliesTentu saja dia cerdas karena dialah penggerak perusahaan besar ini dibantu oleh Annelies. Annelies hanya bersekolah hingga kelas empat E.L.S karena harus membantu ibunya menjalankan perusahaan ini. Dengan detail, cerita awal permulaan Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema dijelaskan di sini. Ontosoroh yang memiliki nama asli Sanikem dijual sebagai gundik oleh ayahnya kepada Herman Mellema demi sebuah kedudukan yang tinggi. Sejak saat itu, Nyai Ontosoroh membenci ayanya yang tega menjual anaknya demi sebuah kedudukan. Bahkan ia juga membenci ibunya karena tidak tegas membela anaknya. Dia menolak untuk bertemu kedua orang tuanya bahkan tidak memanggil ayah dan ibu lagi kepada mereka.

Novel ini juga menceritakan awal kisah Nyai Ontosoroh tidak hormat kepada suaminya dan alasan kenapa dia harus memegang perusahaan ini dan Annelies harus membantunya. Hal ini dimulai ketika anak sah Herman dari ibu seorang Belanda datang mengancam dan menghina Nyai Ontosoroh. Tuan Herman tidak berani membela Nyai dan kedua anaknya bahkan dia sedikit gila. Sejak saat itu, dia berubah dari seorang guru yang baik bagi Nyai Ontosoroh, suami dan ayah yang baik menjadi seorang yang tidak dikenal yang sudah hilang akalnya.

Kembali kepada tokoh utama Minke. Dia sepertinya dimusuhi oleh Robert Mellema yang membenci ibunya sejak kejadian itu. Dia membenci pribumi dan menganggap dia adalah orang Eropa totok dan lupa bahwa dalam dirinya mengalir darah pribumi. Minke diceritakan sebagai pemikir yang hebat, dia bahkan memikirkan hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain.

Suatu pagi, tepatnya subuh Minke dijemput oleh seseorang yang tak dikenal dengan membawa “surat penahanan”. Setelah perjalanan yang panjang dari Surabaya ke kota B di Jawa Timur (selain Blitar dan Bondowoso apakah ada kota berinisial B lagi di Jawa Timur?). Minke disekolahkan dan menganut budaya Barat benar-benar kesal ketika disuruh sujud berjalan setengah kaki untuk bertemu Bupati B, orang yang tidak dikenalnya. Ternyata Bupati B adalah ayahnya sendiri dan dia diambil dengan paksa karena akan dijadikan penerjemah untuk pelantikan ayahnya.  Digambarkan bagaimana pertentangan antara Minke yang menganut budaya barat dengan abang dan ayahnya serta bundanya. Abangnya menganggapnya bukan Jawa lagi dan ayahnya marah karena dia tinggal di Nyai. Apa lagi yang dipikirkan orang tua jika anaknya tinggal bersama seorang Nyai? Ibunya memang cukup heran melihat perubahan Minke tetapi dia memang sosok yang penuh kasih dan tetap mengingatkan bahwa ada nilai-nilai Jawa yang tetap perlu dipertahankan seperti menghormati yang lebih tua.

Ternyata menjadi penerjemah membuat dia uckup terkenal sehingga diundang oleh Tuan asisten resisdensi, Tuan de la Croix da bertemu anak gadis tuan ini yaitu Sarah dan Miriam.  Singkat cerita, Minke kembali ke Surabaya. Sayangnya dia tidak dapat kembali ke Wonokromo karena ada yang berniat membunuhnya kata Darsam, orang kepercayaan Nyai Ontosoroh. Dengan berat hati Annelies tidak dapat bertemu dengannya.

Hal berikutnya yang menarik adalah ketika Miriam mengirimkan surat kepada Minke. Walaupun Belanda, Tuan de la Croix mengagumi Minke karena Minke berbeda dengan orang Jawa lainnya. Pemikirannya sudah berubah seperti orang Eropa tetapi identitasnya sebagai orang pribumi tidak hilang. Miriam mendorongnya untuk menjadi penyelamat bangsanya bukan seperti pembesar bangsa pribumi yang “menjual” bangsanya. Saya menyukai Minke karena dia dapat mengambil dan menerapkan hal-hal yang positif dan pemikiran yang baik dari bangsa Eropa melalui sekolahnya namun tidak melupakan jati diri nya sendiri yaitu seorang Indonesia. Saya pikir, berkat surat ini Minke termotivasi untuk membela bangsanya.

Tiba-tiba Darsam menjemputnya karena Annelies sakit keras dan hanya dapat sembuh jika bertemu Minke. Ah, cinta mereka benar-benar kuat. Sebenarnya Minke sudah menyerah, dia berpikir untuk melepaskan impiannya bersama Annelies karena dia berada dalam keadaan tidak aman dikejar-kejar pembunuh. Namun, cinta bisa membuat seseorang berani untuk menghadapi setiap rintangan. Minke pun kembali ke Wonokromo karena Annelies sakit.

Suatu ketika  keluarga ini, mama, Annelies, Minke tiba-tiba menemukan Pak Herman Mellema meninggal di rumah pelesiran Babah Ah Tjong. Kasus ini dibawa ke pengadilan dan terungkap bahwa Minke dan Annelies sudah sekamar. Hal ini membuat sekolah mengeluarkan Minke karena takut membawa pengaruh buruk. Namun karena protes dan perjuangan guru kesayangan Minke, Minke pun bisa kembali ke sekolah dan melanjutkan sekolah nya yang tinggal beberapa minggu. Setelah lulus, Minke pun menikah dengan Annelies dan terungkap bahwa Robert Suurhof memang punya hati kepada Annelies namun tidak dibalas Annelies. Hal ini lah yang membuat Robert Suurhof menyebarkan fitnah terhadap Minke.

Tiba-tiba terjadi sesuatu yang benar-benar tidak disangka. Pengadilan memutuskan bahwa 4/6 dari kekayaan Herman Melema jatuh kepada anak sah nya, 1/6 kepada Robert dan 1/6 kepada Annelies walaupun mama (Nyai Ontosoroh) yang berjuang demi perusahaan ini.Bahkan Annelies yang dianggap masih di bawah umur harus di bawah pengawasan anak sah Tuan Herman Mellema dan pernikahannya dianggap tidak sah. Segala upaya sudah dikerahkan namun totok dan pribumi memang berbeda di hadapan pengadilan. Totok selalu memang sehingga Annelies mau tidak mau harus berpisah dengan Minke dan berangkat ke Belanda.

Sumber gambar :

Dokar : http://www.freewebs.com/pesonafurnicraftgallery

Annelies & Minke : http://belajardaritulisan.blogspot.com

http://idliterature.wordpress.com

http://sustainableasia.wordpress.com

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tetralogi Pulau Buru : Bumi Manusia

  1. milsonp says:

    stunning, epic novel. baca jg jo? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s