My Life as Project Manager (Part I)

Well, the subject is in English but I prefer to tell my “story” here in Bahasa. Sorry if suddenly I use English.

Gambaran project manager dalam tiap orang berbeda. Ada yang menggambarkan orang yang kerjanya “cuma” nge-push orang jadi terlihat “powerful” (well, it’s not as simple and easy as that). Ada yang menggambarkan orang yang harus tahu segalanya bahkan design, solusi dan lain-lain (kalau memang begini, ngapain ada designer, developer dan tim operation dalam project team). Seorang PM dari vendor saya mengatakan PM adalah seperti tali dari gelang. Dia tidak terlihat namun menyatukan manik-manik sehingga menjadi sebuah gelang. Dalam pikiran saya, project manager adalah leader dan berhubungan dengan leadership. Tidak hanya sekedar nge-push tetapi juga deep down melihat apa yang dibutuhkan team lain,penyatu team lain dan ujung tombak sebuah project, jadi kalau ada masalah dia adalah orang pertama yang dicari.(ini yang saya lihat dari seorang PM ketika dalam project dan yang saya harapkan).

Dari designer menjadi Project Manager tidak terlalu mengguncang hidup saya karena ketika menjadi designer saya kerap kali berperan sebagai PM (mengkoordinir developer, tester dan team lain dari field lain sebagai counterpart) karena kadang field saya tidak ditemani PM. Baik PM maupun Designer perlu mempunyai helicopter view. Jika designer memiliki helicopter view dalam hal sistem integrator yaitu menyatukan node-node yang dibutuhkan dan mendesain iterface atau kapabilitas node tersebut. Sedangkan PM, lebih ke arah tujuan dari project ini dan support apa saja yang dibutuhkan sehingga PM biasanya banyak ngobrol dengan designer. Karena inilah, tim lain (masih dalam IT) mengira PM dari IT adalah tim saya (:sweat:).

Kembali ke masalah PM. Ketika masuk dalam team PM, saya pertama menjadi Project Controller. Project Controller itu seperti asisten PM. Jadi membantu PM follow up, arrange meeting dan eskalasi ke PM. Selanjutnya saya dipercayakan menjadi PM. PM dan PC sebenarnya mirip kerjaannya hanya PM adalah koordinator sedangkan PC membantu koordinator.

Ketika menjadi PM, saya belajar bahwa PM bukan solution giver karena solusi diberikan oleh SME (baik arsitek maupun developer). Well untuk hal ini, saya beberapa lama butuh move on karena sebelumnya saya adalah designer. PM adalah fasilitator dari diskusi untuk mem-finalkan solusi (seharusnya) di mana solusi akan difinalkan oleh desainer (harusnya begitu). Karena PM adalah koordinator, mau gak mau dia harus memberikan stimulus agar proses-proses dalam project ini berjalan.

PM itu menurut saya adalah leader. Sudah banyak buku tentang leadership, sudah banyak seminar tentang leadership juga. Dalam pemahaman saya, leadership adalah coaching bukan boss-ing. Oleh sebab itu, PM bukan hanya sekedar nge-push (untuk beberapa orang , terlihat keren namun buat saya , saya enggan melakukan hal ini kalau bisa walaupun secara alamiah saya adalah orang yang demanding – yang oleh karena inilah saya dipilih masuk ke dalam team PM). Menurut saya, Push/Demanding akan efektif jika kita bukan hanya sekedar nge-push seperti boss ke pembantu, tetapi seperti pelatih ke anak latih. Perlu bicara “dari hati ke hati”, mengerti apa kebutuhan tim core sehingga memungkinkan tujuan project tercapai. Push kadang dibutuhkan ketika team “bandel” dan bukan hanya sekedar perintah 1 kalimat yang powerless , seperti boss yang menekan anak buahnya tapi tidak tau hal apa yang dia tekan. Namun dalam kalimat yang powerful yang menusuk ke titik lemah dan alasan2 yang kuat mengapa hal ini perlu dikerjakan. PM menurut saya adalah orang yang turun ke lapangan seperti mandor. Dia mengetahui kejadian di lapangan, issue yang dihadapi oleh tim nya dan mungkin “percekcokan” antar tim. Dia bukan hanya orang yang di balik meja menunggu laporan dari vendor dan kemudian dilaporkan ke atasan tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di lapangan.

Leader adalah ujung tombak dari sebuah organisasi. Dia mampu melakukan coaching kepada tim nya, mengerti permasalahan team nya dan mengetahui kelebihan tim nya. Leader juga perlu keras jika team “bandel” dan berjuang mati-matian di sisi tim nya sembari mengoreksi tim nya.

PM is a leader, facilitator and coordinator. PM is a place to explore your soft skill effectively

Source image :

unapptivo.apptivo.com

http://cobaltpm.com

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Working Life. Bookmark the permalink.

2 Responses to My Life as Project Manager (Part I)

  1. Giri Kuncoro says:

    cie yang project manager. di XL proyek2nya lebih ke pengembangan infrastruktur, apps buat customer, atau apa jois?

    • joice says:

      kan project manager itu di struktur project bukan functionality/level😀 Kalau gw sendiri PM di project nya IT. Bisa ke capacity, platform, application

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s