Badai Pasti Berlalu (Part I)

“Githa! Githa!! Agitha Clarissa!!!!!” Teriak Rena.

“Rena! Lo ngagetin gue aja. Ga perlu teriak gitu juga kali ke telinga gue”

“Ya lo pake acara budek sih. Lo jadinya mau ikut yang mana? Artikel, Berita Kampus, Percetakan atau Publikasi?”

“Hmmm…. ada yang berkaitan dengan masak gak?”

“Yeeee…. Kalau mau masak, gabung noh sana sama ibu-ibu PKK. Salah sendiri masuk kampus cowo yang ga punya unit masak-masak”

Aku, Agitha Clarissa dan sahabat aku yang suaranya cempreng ini, Serena Olivya adalah mahasiswa baru di kampus teknik yang sangat terkenal dan juga kampus cowok (entah musti bersyukur atau malah kecewa). Sekarang kami sedang mengikuti pertemuan perdana unit majalah kampus.

Kebetulan banget, di unit ini ada senior yang sudah aku kenal. Namanya Kak Denis yang adalah sahabat kakakku jadi sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. At least, aku ga merasa asing di unit ini. Ketua majalah kampus, Kak Arthur cukup dekat dengan kak Denis tetapi kedua orang ini sangat berbeda. Denis sangat populer, ganteng, pintar, aktif di mana-mana dan supel. Sedangkan Arthur lumayan manis, pendiam tapi ternyata ramah. Dia juga pintar walaupun tidak sepintar Denis (atau mungkin karena pendiam?)

Selain Rena, yang adalah sahabat aku sejak SMA, di kampus ini aku juga mendapat sahabat lain, yaitu Ben, seorang jenius yang pendiam.

—————————————————————————————————————————————————

“Githa, dari divisi artikel kamu ya untuk artikel utama edisi-5 tahun ini.”

“Baik kak Arthur. Hmm… artikel nya boleh tentang masak gak?” Tanyaku dengan puppy eyes sambil memasang senyum lebar.

“Masak? Ga pernah ada artikel dengan tema itu. Ga nyambung dengan warna majalah kampus. Gimana kalau tema perjuangan? Kebetulan udah deket hari pahlawan” Saran Riri, koordinator artikel.

“Kalau masak, jualnya ke ibu-ibu RT bukan mahasiswa” sindir Rendy, koordinator publikasi.

“ Hmmm… sekali-sekali out of the boz deh. Gak papa kok artikel nya tentang masak.” Kata Arthur dengan senyum penuh simpatik.

Kak Arthur emang baik. Dia pendiam dan cenderung misterius tetapi orangnya ramah dan senyum nya hangat. Walaupun pendiam, tetapi dia bisa cerita apapun kalau ngobrol berdua.

8 tahun kemudian….

“Ben, Lo bisa datang kan nanti? Ayolah, please… masa sih di hari pentingku kamu ga datang” Bujukku via telepon.

“Gue usahain datang ya. Pesawatnya sih pakai acara delay. Ntar dari bandara gue langsung ke sana ya” Kata sahabatku, Benjamin.

“Harus datang ya. Rena datang loh sampai bela-belain cuti. Sekalian nih reunian. Gue kangen sama kalian berdua”

“Iya bawel. HP nya gue matiin dulu ya soalnya mau take off”

Aku tidak bisa tidur semalaman. Jam 3 baru bisa tidur sedangkan jam 6 pagi ini sudah harus bangun untuk menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk hari besar ini. Sore ini, aku akan bertunangan dengan Marvel, seseorang yang luar biasa yang memenuhi hari-hariku selama 1,5 tahun ini. Orang yang dengannya aku memantapkan hatiku untuk menghabiskan sisa hidup.

“Githaaaaaaaaaaaaaa. Kangen deeeeehhhh… Akhirnya tunangan juga ya lo”

“Renaaaaaaa. Makasih yaaa. Kangen juga iiih”

“Kalau diingat-ingat, lucu juga ya lo ketemu ma si Marvel ini. Bayangin, kalian itu ga ada titik temunya tapi ketemu dan akhirnya pacaran”

“Namanya juga jodoh Ren. Gimana-gimana, pasti ada jalan untuk ketemu”

Aku dan Marvel memang tidak ada titik temunya, Kami tidak sekantor, tidak sekampus, tidak bertetangga bahkan kami tidak mengikuti komunitas yang sama.

Kami bertemu ketika dia numpang makan siang di kantin kantorku. Karena kursi kosong satu-satunya hanya ada di mejaku, terpaksa kami berbagi meja. Kejadian ini terjadi beberapa kali entah secara kebetulan atau memang sengaja. Kami saling berkenalan, ngobrol dan akhirnya berpacaran. Beberapa bulan setelah kami pacaran, aku memutuskan untuk resign dan mengejar mimpiku yaitu aku ingin bekerja di bidang cooking. Akhirnya aku merintis toko kue & bakery dan katering.

Kalau memang jodoh, pasti ketemu juga kok.

“Dan terutama, akhirnya lo bisa move on juga dari Arthur. Pacaran sama cowo se-OK Marvel dan sekarang mau tunangan. Anyway, Arthur apa kabar ya?”

“Apaan sih Ren. Masa lalu mah masa lalu aja. Gue gak tau kabarnya dan gak mau tau. Gue 9 bulan lagi jadi istri Marvel lho.”

“Iya cantik. Jangan marah gitu dong. Ya udah, sekarang kamu pake deh bajunya. Acaranya 2 jam lagi lho”

Aku mencintai Marvel. Aku benar-benar mencintai pria ini, pria yang luar biasa.

—————————————————————————————————————————————————

“Semoga semester 4 gak sekejam semester 3 ya. Lo ambil berapa mata kuliah pilihan?”

“Semoga ya Ren. Gue ambil 2 matkul pilihan. Untung ga ada yang diulang dari semester kemarin. Ben, diem aja sih?”

“Iya nih. Gue lagi lapaaaaar buanget. Yuk makan di Gelap Nyawang. Pengen minum jus semangka, si penambah vitalitas gue. hehehe”

“By the way, orang-orang tingkat akhir itu udah ansos banget ya. Tiap hari kerjanya di lab mulu, ga pernah keliatan.”

“Siapa sih yang lo kangen?”

“Apaan? Gue cuma nanya doang kali”

“Denis yaaaa? Hayo ngaku kalo lo naksir ma Denis”

“Ya ampun. Denis itu ya udah kayak kakak buat gue. Ga ada yang gue kangen kok”

Karena tingkat kepo yang tinggi, kedua sahabatku ini memaksaku sehingga aku terpaksa mengakui bahwa sepertinya aku menyukai Arthur. Justru ketika dia “hilang”, baru aku sadar bahwa aku kangen dia. Ternyata ada yang lain dalam hatiku tentangnya. Inilah alasan kenapa secara gak sadar, aku memberikan perhatian khusus dan mencari perhatian darinya.

Dia pendiam, misterius tapi bisa ramah dan ngobrol apapun. Dia juga perhatian.

“Bukannya dia emang ramah & baik ke semua orang” Tanya Ben.

Ah Ben ini, ntah dia terlalu pakai logika atau sengaja ingin menusuk balon di kepalaku yang makin gede, membuat layu bunga-bunga yang mulai bermekaran di hatiku.

“Iya. Gue juga ga bilang kan kalo gue spesial di mata dia. Gue ga berharap apa-apa. Gue tau, gue paling cuma junior biasa di depan dia. Ga ada spesial nya. Sejak gue tau gue suka ma dia, gue juga pesimis dia bakal suka ma gue.”

“Git, lo kalo nanya tentang kalkulus, gelombang, matematika diskrit, rangkaian, emang cocok ke Ben. Tapi kalo lo mau konsultasi masalah percintaan, salah besar lah ke dia. Hahahahaha”

“Tau deh yang super duper ahli dalam masalah percintaan. Anyway ya Git. Kayaknya Arthur-lo itu deket deh dengan kak Lala”

“Iya, gue tau. Gue juga lihat mereka deket dan kompak. Kak Lala aktif di majalah kampus. Dia pasti lebih obvious, obvious banget malah. Ga kayak gue yang invisible. Kak Arthur paling cuma sekedar tahu ada cewe namanya Agitha, anggota majalah kampus, titik.”

Dan tiba-tiba, kami melihat mereka berjalan berdua untuk mencari tempat makan siang. Buat apa aku berharap dia suka aku. Kak Lala jelas di atas aku. Mungkin aku cuma bisa diam-diam menyukainya. Mungkin bahkan aku harus bisa menjauh dan berhenti berharap.

Beberapa bulan kemudian….

Selamat ya kak atas wisudanya. Maaf ga bisa datang

Isi pesan yang kukirim ke Arthur. Gimanapun juga, rasanya tidak sopan kalau aku tidak mengucapkan selamat.

Makasih ya. Selamat liburan

Enak ya didampingin pacar

Eh? Cuma didampingi ortu dan saudara. Kaga ada pacar :))

Loh, bukannya pacaran dengan Kak Lala?

Gosip itu. Ga ngerti deh, padahal udah kujelasin.

Tetep aja masih nyebar. Ntahlah

Ben, Dia gak pacaran dengan kak Lala. Dia bahkan ga punya pacar Ren. Dia single Ben, Ren.

“Trus, lo mau pendam perasaan lo dan nunggu?”

—————————————————————————————————————————————————

“Pagi sayang” Sapa Marvel sambil mengecup pipiku.

Dia orang yang penuh surprise. Seperti pagi ini, di tengah jam kerja, dia tiba-tiba muncul di tokoku. Dengan dia, aku merasa benar-benar dicintai, merasa benar-benar bahagia. Aku merasa beruntung bertemu dan menjadi calon istri dari pria yang luar biasa ini.

“Kamu selalu membuatku surprise. Pagi-pagi kabur dari Kantor ke sini.”

“Aku kangen, kangen kangen. Kangen banget sama calon istriku. Aku pengen sarapan dengan kue buatanmu. Hari ini ada kue baru apa?”

“Aku baru nyoba resep variasi baru dari brownies nih. Oh iya, mulai sekarang kita bakal sibuk dengan urusan kawinan nih. Gedung, bridal, dekor, band, cake. Aaaah, banyak banget yang harus disipain.”

“Sayang, sayang, keep calm, OK? Kita siapin satu persatu. 9 bulan itu waktu yang panjang kok.”

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s