Badai Pasti Berlalu (Part II)

“Lo masih komunikasi dengan Arthur?”

“Hmm… kadang sih via messenger, Cuma ngobrol ngalor ngidul gitu”

“Lo masih suka ma dia? Sampai kapan?”

“Gue ga tau dan ga ngerti Ren. Gue ga ngerti kenapa gue masih suka ma dia. Kenapa gue masih mau aja nunggu dia.”

“Lo bakal ngelewatin banyak kesempatan. Udahlah, gak usah harapin dia”

“Girls, udah pada milih dosen pembimbing dan topik TA belum?”

“Ben, tau gak sih lo si duudl ini masih aja nungguin si pangeran yang ga jelas itu.”

“Loh, bukannya lo lagi dekat sama Neil ya? Trus kemarin-kemarin sama Mario, Adam, Dika?”

“Iya. Gue flattered waktu mereka deketin. Ada malah yang gue tertarik. Tapi ya ujung-ujungnya, gue tetep balik ke Arthur.”

“Itu semua keputusan lo Git. Lo mau move on atau berdiri di sini aja nungguin Arthur yang ga jelas.”

—————————————————————————————————————————————————

“Selamat siang mbak, ini dengan Agitha. Kira-kira saya bisa ke sana untuk konsultasi mengenai bridal sabtu ini? Ya, acaranya sekitar 7 bulan lagi.”

Tok…tok…tok..

“Mbak, ada yang cari.”

“Siapa? Bilangin lagi sibuk.”

“Tapi dia keukeuh pengen ketemu mbak.”

“Ya udah, bilangin 10 menit lagi.”

Sebel deh, lagi pusing ngurusin printilan-printilan pernikahan, eh ada yang maksa ketemu.

Sepertinya aku ga punya utang sama siapapun. Utang modal ke bank udah lunas, janji dengan client pun udah semua. Ini siapa sih yang maksa ketemu.

…………………………….

“Hai Githa”

Damn it! Orang yang sudah aku kubur dalam-dalam, orang yang dengan susah payah aku move on dari nya, sekarang bangkit dan seenaknya muncul di depanku.

“Heeeeiiii… kok bengong Git?”

“Hmm… ga papa” jawabku canggung. “Udah lama ya ga ketemu”

Doh! Basa basi banget.

“Iya nih. Terakhir ketemu pas ada event majalah kampus setahun setelah aku lulus. Terakhir ngobrol 2 tahun yang lalu.”

“Ya kakaknya sendiri ga nyapa di cetingan. Ga pernah malah”

Ups! Kenapa harus ngebahas ini sih. Sekarang yang perlu dipikirin adalah gimana caranya ngusir makhluk ini.

“Oh ia, kira-kira ada yang bisa saya bantu gak? Mau pesen yang mana? Pasti mau ketemu minta diskon ya?”

“Oh gak. Aku tahu tokomu ini dari temen jadi sekalian mampir. Mau ngajak makan siang bareng sekalian ngobrol-ngobrol.”

“Hmmm… sorry, saya lagi sibuk. Kapan-kapan aja ya. Saya balik dulu ke dalam. Bye…”

“Git, Githa, tunggu… hmmm… Githa…”

Shit! Shit! Kenapa sekarang muncul sih? Kenapa pas aku udah mau nikah? Damn!

……..

“Na, lo tau tadi siang gue ketemu siapa?”

“Brad Pitt? Taylor Lautner? Genderuwo? Lintah darat? Penagih utang? Siapaaaaa?”

“Arthur….” kataku pelan.

“APAAAAAAAAAAAAA???? Kok bisa?”

“Dia ke tokoku tadi siang. Dia tiba-tiba muncul di toko ku, ntah dia tau dari mana. Dia ngajak aku makan siang bareng.”

“Trus lo makan siang bareng? Trus dia gimana sekarang? Jadi buncit? Jadi makin ganteng? Kerja di mana?”

“Rena bawel deh…. gue langsung kabur ke dalam tanpa mau ngobrol dengan dia. Kenapa sih dia muncul sekarang? Kenapa dia ga muncul setelah gue nikah atau 2 tahun yang lalu?

“Udah, cuekin aja. Bentar lagi lo mau nikah lo. Lo kasi tau aja ke dia kalo lo udah tunangan dan mau merit”

“Yey, ngapain juga gue ujug-ujug bilang ke dia kalo gue udah tunangan. Trus ntar dia nanya, so what? Apa hubungannya ma gue?”

“Sekarang dia tiba-tiba nge-whatsapp gue. Dia tau dari mana nomor gue? Nomor gue kan udah hilang yang lama.”

“Hmmm… tanda tanda nih.”

“NGGGAAAAAKKKKK!!!!!! Gue ga mau rencana gue berantakan”

—————————————————————————————————————————————————

“Soooo… akhirnya lo nerima juga si Marvel dan move on dari Arthur?”

“Hmmm…. iya” Jawabku tersipu-sipu malu.

“Setelah berjuang mati-matian. Pantang menyerah deketin lo, 7 kali ditolak dulu. Akhirnya, dia berhasil naklukkin hati lo ya. Kok bisa?”

“Eh, itu si Ben. Beeeeennnn, sini ben” teriakku sambil melambaikan tangan ke Ben.

“Habis nganterin anak cewek lo ya?” Tanya Rena.

“Iya, gue anterin dia sama nyokapnya ke rumah mereka dulu baru ke sini.”

“Jadi kalian udah akrab?” Tanyaku penasaran.

“Udah dooong. Udah manggil papa malah. Hehe”

“Anyway Ben, Githa udah jadian lho sama Marvel”

“Akhirnya takluk juga hati lo ya Git. Gimana ceritanya lo jadinya luluh?”

“Ngeliat perjuangan dia gitu, lama-lama gue luluh ya. Namanya cewek. Lama-lama, gue bisa ngelihat hal-hal menarik dari dirinya. Gue mulai mendapatkan tampilan fisiknya yang menarik. Gue suka tatapan matanya”

“ Akhirnya lo move on ya dari Arthur. Masih komunikasi?”

“Sebulan dua bulan ini udah gak. Dan ngapain lagi sih? Udahlah. Udah cukup waktu yang gue berikan buat dia. Udah cukup waktu yang gue sia-siakan nungguin dia.”

—————————————————————————————————————————————————

“Mbak, ini ada yang cari.”

“Siapa Nit?”

“Itu cowok yang beberapa hari ini datang terus pengen ketemu mbak.”

Ada apa dengan kamu sih Thur? Bisa kah kamu membiarkanku tenang? Membiarkan aku mengurus semua urusan nikahan ini dengan tenang hingga akhirnya aku menikah? Bisakah kamu ga usah datang dan pergi saja dari hidupku?

“Bilangin lagi sibuk.”

“Tapi mbak, dia keukeuh ketemu. Bisa-bisa dia nungguin sampai toko ini tutup kayak kemarin-kemarin.”

“Biarin aja. Kayak ga punya kerjaan aja nungguin orang.”

Esok siang….

Aku baru saja menemani client melihat galeri kue-kue yang kami pajang, melihat sebentar pegawai-pegawai yang bekerja dan sesekali menyapa langgananku.

“Githa, makan siang bareng yuk”

Aku pun menoleh pada arah datangnya suara itu. Oh damn! Kali ini aku ga bisa melarikan diri.

“Aku udah bawain makan siang jadi gak perlu keluar kok. Yuk makan siang bareng”

“Hmmm…. hmmm…”

Aku bingung harus jawab apa. Aku ingin menghindar tapi malu juga dilihat orang-orang. Aku juga ga punya alasan menolak.

Siang itu kami pun ngobrol. Mengobrol tentang kerja nya yang udah beberapa kali ganti perusahaan di negara yang berbeda-beda. Setelah lulus, dia sempat kerja di Indonesia, kemudian ke Singapura lalu ke Jepang, kemudian Belanda, Jerman dan terakhir kembali ke Indonesia membuat perusahaan sendiri. Dia kembali ke Indonesia sekitar tiga bulan yang lalu setelah dua tahun di Jerman.

Kami ngobrol berdua seperti yang kami lakukan ketika masih kuliah. Namun, sekarang aku begitu canggung ngobrol dengannya.

“Cincin apa itu? Kamu sudah tunangan?”

“Iya, Aku sudah tunangan” Jawabku dengan bangga sambil sedikit memamerkan cincin di jari manisku ini.

See? So please stop seeing me and don’t ever come again to my life.

“Oh, selamat ya” Jawabnya dengan datar dan mimiknya sepintas sedih. “ Anak kampus kita juga?”

“Oh gak. Kami ketemu nya lucu. Gak sekantor, gak sekampus, ga tetangga, pokoknya ga ada yang sama deh. Kami ketemua nya pas dia kebetulan makan siang di kantin kantorku dulu. Kenalan, ngobrol dan akhirnya pacaran.” Kataku dengan penuh kegembiraan.

“Dia orang yang bisa membuatku spesial. Dia orang yang gigih dan pantang menyerah untuk mendapatkanku. Aku begitu terharu dan luluh melihat perjuangannya. Dia orang yang membuatku benar-benar merasa dicintai. Dia adalah pria yang amazing” Kataku membanggakan tunanganku yang memang luar biasa ini.

“Wow keren ya. Hmmm…”

Aku langsung memotong kalimatnya dengan menunjukkan foto aku dan marvel.

Nah, lihat kan betapa bahagia nya hidupku sekarang. Jadi, please pergi saja. Aku ingin hidup tenang.

“Hmmm…. gimana kabar sahabatmu, Rena dan Ben?” Kata Arthur mengalihkan pembicaraan.

“Baik. Kami tetap komunikasi. Anyway, makan siang nya sudah selesai. Aku balik ke dalam dulu ya, mau lanjut kerja” Kataku sambil buru-buru ke dalam.

Arthur menahan pintu menuju ruanganku.”Aku temani ya”

“Hmmm…. ga usah. Kakak kan pasti kerja. Aku ga usah ditemani”

“Aku pengen ngeliat kamu kerja. Pngen ngeliat mukamu yang serius itu kalau lagi ngerjain sesuatu, kayak waktu ngerjain artikel.”

“Kayak pernah ngeliat aja.” Jawabku kaget.

“Iya, aku pernah liat. Kamu kalau ngerjain artikel, dahi kamu ini suka mengernyit” Jawabnya sambil mengelus dahiku.

Damn! Aku ga punya alasan. Doh! Harusnya tadi diam aja dalam ruangan ini.

—————————————————————————————————————————————————

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s