My Life as Project Manager (Part II)

“Project manager itu ga butuh otak. Jadi sayang aja kalau lulusan kampus OK masuk sana. Ga level” – Kata teman saya di kantor.

Kalau project manager ga butuh otak, dia pakai apa dong untuk mengatur schedule?

Kalau project manager ga butuh otak, dia pakai apa dong untuk mendefinisikan task-task yang diperlukan untuk menyukseskan project?

Project Manager benar-benar membutuhkan dan sekaligus mengembangkan soft skill (termasuk cara berkomunikasi). Trus, soft skill itu dari mana? dari hati doang? dari kebiasaan doang?

Banyak orang yang menganggap orang yang bekerja sebagai designer dan developer lah yang punya otak. Teknik dan hard skill mereka memang terlihat begitu jelas.

Developer memang jago. Betul-betul mengerti teknologi dan memahami node itu secara teknikal. Namun, developer hanya mengerti sistem yang dia develop.

Designer lebih keren lagi. Dengan helicopter view nya, mereka bisa merancang node yang satu terhubung dengan node lain membentuk suatu sistem, bagaimana node-node itu berkomunikasi, bagaimana mengintegrasikan node-node tersebut. Namun, designer hanya mengerti sistem yang dia rancang.

Project manager tidak mengetahui secara dalam sebuah node seperti developer. Mungkin juga dia tidak mengetahui lebih dalam sistem tersebut bekerja. Namun Project Manager harus mengetahui sistem aja saja yang terkait dan apa kontribusinya. Project Manager bahkan dituntut harus cepat belajar mengerti “tema” dari project tersebut. Ketika project itu berakhir dan dia pindah ke project lain, dia harus cepat belajar “tema” project yang baru ini. Bisa jadi beda sistem namun satu field, bahkan bisa juga dari field yang benar-benar berbeda.

Developer selama masih di node tersebut akan sangat paham mengenai node tersebut tetapi hanya node tersebut. Designer selama masih di sistem tersebut akan sangat paham mengenai sistem tersebut namun hanya sistem tersebut. Sedangkan project manager, pengetahuannya akan node dan sistem tersebut dangkal tetapi dia harus cepat beradaptasi karena tidak selama nya dia ada di dalam node/sistem tersebut. Ketika project berubah, dia harus segera beradaptasi dan mengetahui sistem yang masuk dalam project nya.

Source :

http://cobaltpm.com

http://community.ashworthcollege.edu

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Working Life. Bookmark the permalink.

3 Responses to My Life as Project Manager (Part II)

  1. andiazuno says:

    Kok temen2mu stupid sih? :p

  2. andiazuno says:

    Temen yg ini jo
    “Project manager itu ga butuh otak. Jadi sayang aja kalau lulusan kampus OK masuk sana. Ga level” – Kata teman saya di kantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s