Badai Pasti Berlalu (Part IV)

“Githa…”

Great! Arthur datang ke toko ku pas ketika tunanganku menjemputku. Semoga ga ada masalah atau paling parah perkelahian.

“Sayang, yuk langsung cabut.” Kataku sambil menuju mobil.

“Githa, tunggu” Kata Arthur

“ Lo siapa?” Tanya Marvel dingin.

“Hai. Gue Arthur” Kata Arthur mendatangi Marvel sambil berusaha tenang.

“Oh, lo Arthur senior nya cewek gue ya? Yang akhir-akhir ini suka gangguin cewek gue?”

Baiklah, sepertinya suasana mulai memanas. Kayaknya Marvel harus segera diajak masuk mobil.

“Sayang, yuk pulang yuk”

“Bentar ya sayang.” Kata Marvel  “Lo mau apa datang ke sini?Mau gangguin cewek gue lagi?”

“Gue cuma berusaha dapetin cewek yang gue sayang. Cewek yang gue ingin jadi calon istri gue” Kata Arthur dengan berani walaupun deg-degan juga.

“Apa? Calon istri lo? Lo tau kan dia udah tunangan dengan gue? Dia itu calon istri gue. Jadi, stop gangguin tunangan gue.”

“Gue gak akan berhenti.”

“Hey! Dia itu mau nikah ma gue”

“Mau kan? Bukan sudah? Artinya dia jodoh dengan gue karena gue datang di saat kalian belum nikah.”

“Lo tuh ya! Berani berani nya ngomong” Kata Marvel dengan marah dan maju mendekati Arthur.

OK, ini sudah benar-benar panas. Kayaknya Marvel harus dipaksa pulang

“Sayang, ayo kita pulang. Cuekin aja, ga usah dipeduliin” Kataku sambil menarik Marvel masuk ke mobil.

Dalam mobil

“Tenang ya sayang. Tarik nafas yuk.”

“Dia ngapain sih datengin kamu kayak gitu? Bikin kesel aja” Kata Marvel dengan kesal.

“Ya udah, ga usah ditanggepin. Cuekin aja”

“Gimana aku bisa cuek. Dia gangguin calon istriku. Emang dia pikir dia siapa? Seenaknya datang dan ngejar kamu.”

“Sayang, kita cuekin aja. Anggap aja angin lalu. Sekarang kita konsentrasi ke persiapan pernikahan kita ya”

Beberapa hari kemudian

Marvel dan Arthur bertemu kembali secara tak sengaja. Mereka kemudian dengan hati yang sama-sama panas karena memperebutkan seorang wanita, berbicara satu sama lain. Mereka masing-masing memberikan argumen yang cukup kuat. Mereka sama-sama meyakini bahwa wanita ini adalah jodoh mereka. Mereka berdebat namun untungnya tidak sampai ke perkelahian. Namun, yang satu masih tetap keukeuh dan kuat pada pendiriannya sementara yang lain mulai sedikit mengalah dan ragu.

—————————————————————————————————————————————————

“Sayang, aku udah kumpulin beberapa calon catering untuk nikahan kita. Minggu depan mulai test food yuk”

“Kenapa gak pakai catering kamu aja?” Tanya Marvel sambil merangkul pundakku.

“Sayang, kamu kan tahu catering aku masih kecil-kecilan. Masih cupu lah dibanding catering-catering yang dipakai di acara nikahan”

“Kita coba aja. Kasi kesempatan ini ke catering kamu sekalian pemasaran. Pasti rasanya ga beda jauh kok”

“Ah sayang, kamu emang selalu bisa menyemangati aku”

“Sayang, aku mau kamu jujur. Kamu masih sayang sama Arthur?” Tanya Marvel dengan serius. Kalau lagi serius, tatapan Marvel ini bener-bener tajam & fokus.

“Sayang, kamu kenapa masih nanya sih? Dia itu masa lalu doang. Aku sayang kamu dan mau nikah dengan kamu.”

Marvel tidak menjawab tapi menatapku, melihat mataku menyelidiki.

“Sayang, anggap aja dia itu cuma pengganggu. Ga usah diwaro” Kataku sambil mengalungkan tanganku di lehernya dan meyakinkan dia.

—————————————————————————————————————————————————

Ini weekend dan ada orang yang pagi-pagi sudah mengetuk pintu rumahku untuk bertamu.

Ternyata yang bertamu adalah orang terakhir dalam daftar orang yang aku mau ketemu dan dia malah maksa untuk masuk.

“Ada apa lagi sih kak? Apa semua belum jelas kalau gue lebih memilih Marvel dibanding kakak”

“Menikahlah denganku Agitha. Cuma aku yang bisa membahagiakan kamu” katanya sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku.

“Ih lepasiiiiin. Lepasin tanganmu” Kataku memberontak tapi sia-sia “Jangan terlalu yakin deh kak. Cowo yang bisa ngebahagian gue cuma Marvel. Sekarang pergi aja deh kak. Gue berharap gue masih bisa menghormati lo sebagai senior gue. Tapi dengan cara lo ini, gue terpaksa memutuskan untuk tidak kenal lo lagi”

“Orang yang bisa membahagiakan kamu adalah orang yang benar-benar kamu cintai.”

“Lho, benar kan? Yang gue cintai adalah Marvel. Sudah jelas”

“Aku yakin sayang, dalam lubuk hatimu yang paling dalam, masih ada cinta buat aku.” Kata Arthur sambil memandangku dengan penuh keyakinan. “Kalau kamu memang tidak mencintaiku, sekarang, sambil melihat tepat di mataku, katakan kalau kamu tidak mencintaiku”

“Aku tid… aku tidak… aku ti..”

Hey, hey, ada apa dengan diriku. Kenapa ketika aku ingin ngomong kalau aku tidak mencintainya ada perasaan ragu. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Ada apa dengan ku? Apakah perasaan yang kukira hilang itu hanay terkubur dan sekarang kembali? Apakah perasaan yang kuhilangkan dengan susah payah, dengan mudahnya sekarang kembali? Tidak. Tidak, tidak mungkin. Ini hanya karena awkward saja makanya aku tidak bisa menyelesaikan kalimat ini.

Dengan memaksakan diri dan menguatkan dirimu mengatakan “Aku tidak mencintaimu, kak”

“Aku tidak percaya. Kamu ga bisa bohong sayang. Matamu berkata lain. Aku tahu kamu masih mencintaiku.”

“Please kasi tau gue, gimana caranya biar lo kak bisa pergi dari gue, bisa berhenti gangguin gue. Please, I beg you. ”

“Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan cewek yang aku ingini, yaitu kamu. Aku tidak akan pergi apalagi karena semakin yakin bahwa kamu masih mencintaiku.”

“5 bulan lebih lagi gue nikah kak. Please pergi. Gue udah menetapkan hati gue. Gue tau gue bisa bahagia dengan Marvel. Dia orang yang terbaik buat gue”

“Menikah dengan orang yang mencintai kita memang bisa membuat kita lebih bahagia tapi kita pasti lebih bahagia ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai.”

—————————————————————————————————————————————————

“Sorry ya Ren, gue ajak ketemuan malem-malem. Cowok lo ga keberatan kan?”

“Ada apa sih Githa?” Katanya sambil merangkul diriku “Lo kelihatan bingung, galau dan…. lapar tentunya. Yuk, makanannya dimakan dulu”

“Lo tau kan gue cinta sama Marvel makanya gue mau nikah ma dia”

“Iya gue tau. Lo ga perlu pamer kok, gue udah tau.”

“Tapi, kenapa sekarang gue bingung, gue ragu , gue ga tau musti gimana. Gue seolah-olah di persimpangan jalan.”

“Wajar kok. Katanya orang kalau mau nikah, ngalamin kondisi seperti ini. Ada yang ragu apakah calonnya adalah yang terbaik, apakah mereka bisa berumah tangga. Ntar setelah lo nikah, keraguan lo itu semua hilang kok”

“Tadi Arthur ke rumah. Gue juga ga tau gimana dia bisa dapetin alamat rumah gue. Gue ga bisa ngomong, gue gak cinta ma dia waktu dia nantangin gue.” Mataku mulai basah “Gue ga tau kenapa gue ga bisa ngomong dengan mantap. Gue tiba-tiba ga bisa ngomong, seperti ragu dan ntah lah, gue ga ngerti”

“Tenang sayang. Itu efek penasaran lo. Lo nunggu selama enam tahun tanpa tahu apakah dia suka ma lo atau gak. Jadi ketika dia muncul, ketahuan kalau dia juga suka ma lo. Dalam diri lo itu semacam penasaran lo itu terjawab.”

Rena kemudian melihat ku. Melihat ada keraguan, kesedihan, bingung bahkan putus asa di sana

“Oh No. Oh No… gak, gak mungkin. Gak” Kata Rena sambil memelukku dan menenangkanku “Lo ga cinta kok ma Arthur. Itu cuma efek kelamaan suka ma dia. Yang lo cinta cuma Marvel. Tenang. Ayo kembali fokus ke Marvel”

“Gue ga berencana selingkuh atau batalin pernikahan kok Ren. Tenang aja.”

“Lo suka ma dia Git. Lo masih suka ma dia Git.” Kata Rena lirih “Ah! Seharusnya gue ngebantu lo ngelupain dia. Eh malah gue ngebuat lo sadar kalo lo suka ma dia.” Sesal Rena “Sekarang lo harus tentuin siapa yang lo mau”

“Iya Rena. Gue tau kok”

“Siapa?”

“Marv…” Ah damn! Kenapa aku ga bisa ngomong Marvel? Kenapa?

—————————————————————————————————————————————————

Duduk di hadapanku, pria yang aku cintai, pria yang akan aku nikahi 5 bulan lagi. Pria yang benar-benar mencintaiku. Ya, aku tahu dia begitu mencintaiku dan aku bisa merasakannya. Aku bersyukur dicintai oleh pria yang hebat seperti dia. Pria yang memiliki hati yang luar biasa. Pria yang memberikan cinta yang luar biasa kepadaku. Aku tidak tega menyakitinya. Aku tidak bisa melihat dia disakiti. Aku juga ingin membuat dia bahagia.

Marvel tahu bahwa wanita yang duduk di hadapannya adalah wanita yang dia cintai. Dia harus berjuang untuk mendapatkan hati wanita ini. Dia belum pernah berjuang seperti ini untuk mendapatkan hati seorang wanita. Dia harus berjuang mengusir kenangan dan cinta akan pria lain. Namun sepertinya kenangan dan cinta itu muncul kembali. Dia ingin membahagiakan wanita ini karena dia benar-benar mencintainya. Akan tetapi, dia bingung apa yang harus dia perbuat agar wanita ini bahagia. Marvel seperti berada di persimpangan.

Malam ini, wanita yang biasanya terlihat kuat, terlihat yakin, terlihat tahu apa yang dia mau, terlihat tegar walaupun kadang rapuh, terlihat berbeda. Dia terlihat bingung, benar-benar bingung. Tatapannya kosong seolah-olah berada di tengah-tengah pilihan yang begitu berat.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s