Badai Pasti Berlalu (Part V)

3 minggu kemudian…

Biasanya surat yang saya terima hanya dari Bank. Tetapi kali ini berbeda. Ada surat pribadi. Unik karena di jaman teknologi yang maju seperti sekarang masih ada yang mengirim surat bukannya surel. So it must be important.

Agitha my dear,

Maaf kalau aku tidak bisa mengatakan hal yang ada di surat ini secara langsung kepadamu. Maaf juga jika aku tidak bisa mengatakan hal ini via telepon karena aku takut aku tidak bisa menyampaikan hal ini kepadamu.

Aku tertarik kepadamu bahkan ketika kita pertama kali bertemu. Perasaan tertarik itupun berkembang menjadi cinta. Ya, aku mencintaimu. Kamu adalah wanita yang hebat, wanita yang luar biasa. Oleh karena itu, aku menikah denganmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.

Setelah berjuang untuk mendapatkan hatimu, akhirnya kamupun bisa mencintaiku dan mau menikah denganku. Kamu bahkan bisa membiarkan cintamu kepada pria itu yang sudah bertahun-tahun pergi untuk kemudian digantikan olehku.

Aku ingin membahagiakan dirimu. Aku mencintaimu maka aku ingin melihat kamu bahagia. Apapun aku usahakan untuk membuatmu bahagia. Bahkan jika harus merelakan dirimu dengan pria lain. Aku tidak tahu kenapa dia datang justru saat sebelum kita nikah. Tetapi aku tahu sayang, ada keraguan di matamu. Kamu bingung memilih. Apakah harus memilih pria yang mengisi hatimu bertahun-tahun atau pria yang dengannya kamu berkata, “Ya, aku mau menikah denganmu”

Aku ingin melihat matamu bersinar kembali. Aku ingin melihat matamu tersenyum kembali. Oleh karena itu, aku lebih baik mengalah. Aku memilih mundur. Aku bisa membahagiakan kamu dan tentu saja berusaha sekuat tenagaku membahagiakan kamu. Tetapi aku tahu, kamu pasti lebih bahagia dengan pria yang memang kamu cintai.

Maafkan kalau aku pergi. Aku sudah mengambil tawaran dari kantor untuk pindah ke Australia. Aku ingin kamu bahagia dengan Arthur. Aku mengalah untuk Arthur. Pastikan Arthur adalah pria yang kamu pilih, bukan pria lain.

Maaf kalau aku harus menggunakan cara ini. Maaf aku bersikap tidak berani dan pengecut karena cuma berani lewat surat. Aku tidak bisa berbicara langsung. Aku takut ketika berbicara langsung, aku malah jadi ragu dengan keputusanku ini.

Semoga, keputusan ini bisa membuatmu bahagia.

Dari orang yang mencintaimu,

Marvel.

No Marvel, no. Please jangan pergi. Aku pun tertunduk, menangis. Aku marah kepada keadaan, aku marah kepada Arthur, aku marah kepada diriku sendiri. Marvel, please jangan pergi.

Aku kemudian berusaha menghubunginya. Nomornya tidak aktif, message via SMS dan whatsapp tidak ter-deliver. Aku kemudian mendatangi rumahnya dan ternyata dia sudah berangkat. Orang di rumahnya tidak mau memberi tahu ke kota mana dia pergi, alamat nya di kota yang baru.

Marvel, aku minta maaf kalau aku terlihat galau dan bingung. Please, kembali Marvel. Kita sudah merencanakan pernikahan kita kan? Apakah kamu mau pergi dan meninggalkan rencana ini begitu saja?

“Ren, Marvel pergi Ren. Marvel ninggalin gue Ren”

“Tenang, cup cup cup. Tenang ya” Kata Rena sambil menenangkanku. Seharian itu aku tidak masuk kantor. Aku cuma bisa di tempat tidur, tidak mau melakukan apapun hanya menangis. Kehilangan Marvel begitu menyakitkan. Untung ada Rena yang datang menemaniku, membawakan makanan dan menenangkanku.

“Kenapa dia harus pergi dan membatalkan rencana kami?”

“Karena dia tahu lo mencintai Arthur”

“Gue cinta ma dia Ren! Gue cinta!”

“Iya Githa. Marvel tahu lo cinta sama Marvel & Arthur makanya lo bingung milih yang mana. Makanya, Marvel memilih untuk ngalah karena dia ga tega ngeliat lo menderita diperebutkan dua cowo yang sama-sama keras kepala.”

Esok harinya…

Arthur datang ke rumahku pagi-pagi.

“Sorry aku baru datang. Aku baru dapet kabar dari Marvel kemarin. Aku ke tokomu dan ternyata kamu tidak masuk. Makanya aku mutusin untuk datang ke sini pagi-pagi”

“Puas lo? Puas udah ngerusak rencana kami? Senang kan lo.”

“First of all, aku minta maaf sayang. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Maaf kalau aku terlambat. Seharusnya aku melakukan hal ini lebih awal. Aku tidak bermaksud menyakiti orang lain. Aku hanya ingin berjuang. Berjuang untuk mendapatkan kamu. Aku minta maaf kalau perbuatan aku ini bikin kamu sakit” Kata Arthur sambil mengelus pipi dan rambutku.

“Gue bingung…”

“Marvel mengalah hanya untuk aku bukan untuk cowok lain. Marvel mengalah biar kamu bisa dengan aku, bukan dengan cowok lain ya. Jadi kamu ga boleh dengan cowok lain, cuma dengan kamu” Kata Arthur dengan serius “Aku janji, aku akan membahagiakan kamu. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kamu atau take you for granted. Aku berjanji akan lebih membahagiakan kamu daripada Marvel.”

“Kenapa harus gue? Kenapa gak cewek lain aja? Atau karena lo udah pengen nikah trus gak ada cewek lain, jadi terpaksa ngejar gue bahkan nekat menghancurkan pertunangan gue? Karena ga ada cewek lain, ya sudah lo ngejar aja cewek yang mau setia suka & nungguin lo? Daripada ga dapet kan… ”

“Kamu salah sayang. Aku suka ma kamu. Aku mulai suka kamu ketika aku memintamu menulis artikel utama di edisi ke-5. Kamu unik, kamu berbeda dan kamu menarik perhatian aku. Tetapi aku tidak tahu bagaimana mendekati kamu. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu waktu itu. Aku tenang karena kamu masih menjaga komunikasi kita, berarti kamu memang untuk aku. Maaf kalau aku gak nembak kamu waktu aku lulus dan tahun-tahun berikutnya karena aku bekerja berpindah-pindah. Tetapi waktu kita putus komunikasi, aku di Jerman waktu itu. Aku khawatir kehilangan kamu. Makanya aku berusaha kalau bisa secepatnya kembali ke Indonesia. Selain memutuskan untuk settle dan menikah, tentu saja menikahimu, aku ingin lebih cepat ke Indonesia karena takut kehilangan kamu. Ternyata, ketika aku kembali ke Indonesia dan berhasil mendapatkan informasi tentang kamu, kamu sudah bertunangan. Aku memang terlambat. Tetapi tidak benar-benar terlambat kan? Karena aku masih punya kesempatan.”

“I’m still shocked. I don’t know what should I do now. I , I need more time to think”

“Iya sayang. Aku mengerti. I don’t want to push you to decide to spend your life with me. I’ll give time you need to think and prepare yourself. I love you.”

10 bulan kemudian

“Ben, pemberkatan Githa jam 9 kan? Lo dateng bareng Cathy?”

“Iya ntar gue dateng ke pemberkatannya bareng Cathy & anak-anak.”

……..

“Arthur Julian Joseph, Apakah kau menerima Agitha Clarissa sebagai istrimu di dalam Tuhan dan berjanji untuk mengasihi nya dan setia hingga maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia”

“Agitha Clarissa, Apakah kau menerima Arthur Julian Joseph sebagai suamimu di dalam Tuhan dan berjanji untuk menghormatinya dan setia hingga maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia.”

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

One Response to Badai Pasti Berlalu (Part V)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s