Bali – Second Day

Pada hari kedua, kami mengunjungi beberapa tujuan wisata di sekitar Tabanan.

Setelah sarapan, kami pun menuju Tabanan dengan bantuan GPS. Sayangnya di sekitar hotel kami, sinyal GPS suka hilang😦 Perjalanan yang ditempuh cukup jauh, untungnya tidak semacet Jakarta.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman Ayu Temple. Masuk ke kompleks taman ayu temple melewati sebuah jembatan yang sepertinya di atas sungai buatan (sayangnya ketika kami ke sana, sungai ini kering). Ketika masuk ke kompleks kami disuguhi tanah lapang berumput hijau yang luas dan semacam ilustrasi sabung ayam. Tiket masuk sekitar 10,000 untuk domestik (harga tiket masuk untuk wisatawan domestik dibedakan dengan wisatawan mancanegara). Pengunjung hanya bisa berfoto di pintu gerbang yang menuju kompleks pura. Pengunjung hanya bisa melihat dari luar bagaimana bangunan pura dan ritual keagamaan yang dilakukan penduduk sekitar.

Next to Taman Ayu Temples

Next to Taman Ayu Temples

Jpeg

Setelah dari Taman Ayu Temple, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Ulun Danu Bratan di danau Bratan. Danau ini bersama danau lain di dekatnya (sepertinya Danau Buyan) disebut danau kembar. Perjalanan yang cukup jauh dari Taman Ayu Temple menuju Pura Ulun Danu Bratan. Melewati jalan yang berkelok-kelok mendakit perbukitan dengan udara yang sejuk walaupun tidak dingin. Banyak perkebunan di sana sini. Pemandangan yang luar biasa. Menuju Danau Bratan, ada sebuah perkebunan strawberry jadi ada beberapa penjaja strawberry di sekitar jalan menuju danau. Pura ini adalah salah satu tujuan wisata yang hampir selalu ada di itinerary wisatawan terlihat dari banyaknya pengunjung dan gambar pura ini yang menghiasi beberapa media cetak maupun kartu pos. Udaranya cukup sejuk dan pemandangannya menarik. Oh ya, walaupun di Bali cukup panas bahkan di daerah yang cukup tinggi, tetapi anginnya cukup sejuk.

Ulun Danu Bratan

Ulun Danu Bratan

Danau Bratan

Danau Bratan

Jpeg

Karena sudah waktunya makan siang, kami menuju warung nyoman yang menjual ayam betutu. Ayam betutunya cukup berbeda dengan yang pernah saya temukan di Jakarta. Ayam betutu warung nyoman didominasi oleh sereh.

Jpeg

Ayam Betutu Warung Nyoman

Kami melanjutkan perjalanan kami ke tujuan berikutnya yaitu Alas Kedaton. Cukup sepi ketika kami ke sana. Hutannya tetap dipertahankan dengan menambah beberapa kios menjual souvenir. Para pemandu dan “pengusir” monyet nakal juga available di sana. Saya sebenarnya agak ngeri dengan monyet, ngeri terutama karena kenakalan mereka. Setelah melihat beberapa aksi monyet dan berjalan menyusuri hutan, kami tiba di spot pertunjukan kelelawar super gede. Jadi, disediakan jasa foto bersama kelelawar raksasa ini di area Alas Kedaton.

Jpeg

Alas Kedaton’s icon

Tujuan wisata terakhir yang kami kunjungi pada hari kedua adalah Tanah Lot. Biasanya wisatawan mengunjungi pantai terlebih dahulu dan mengunjungi Tanah Lot di hari terakhir. Karena kami adalah wisatawan anti mainstream  :p kami mengunjungi Tanah Lot di awal kami berlibur. Seperti yang ditebak, banyak sekali wisatawan yang mengunjungi Tanah Lot. Kami cukup beruntung saat itu karena daratan menuju Pura tidak tertutup air laut. Anginnya sangat kencang (yaiyalah namanya juga pantai) yang meniup-niup dress yang saya pakai T.T

Tanah Lot's Gate

Tanah Lot’s Gate

Daratan yang biasanya tertutup air laut cukup licin, jadi berhati-hati ya selama menyusuri daratan tersebut. Akses menuju pura ditutup karena hanya diperuntukkan untuk yang beribadah. Kami juga berjalan menyusuri tebing di area Tanah Lot juga. Nah pemandangan dari tebing ini juga bagus banget. Melihat Pura dan laut dari ketinggian.

Tanah Lot with view of Pura

Tanah Lot with view of Pura

Thinking

Thinking

Puas menikmati Tanah Lot, kami mengunjungi Gusto Gelato, salah satu gelato stall yang direkomendasikan oleh teman suami. Antrian pembeli sangat banyak dan tempatnya cukup nyaman. Ukuran small (2 scoop) dihargai Rp 20.000 (cukup murah menurut saya dibanding harga gelato yang pernah saya temui di Jakarta atau Bandung). Berbagai rasa tersedia, mulai dari cemilan seperti snickers, bounty hingga berbagai rasa buah yaitu raspberry, lemon dan rasa unik lainnya seperti yoghurt dan lemongrass.

Left : Giandoia Chocolate + Snickers, Right : Blackcurrant + Bounty

Left : Giandoia Chocolate + Snickers, Right : Blackcurrant + Bounty

Setelah melewati kemacetan sekitar Gusto Gelato, kami berniat mengejar sunset di Kuta. Jalanan menuju dan sekitaran Kuta sangat macet. Karena kami tidak berhasil menikmati sunset di Kuta, kami pun memutuskan untuk mengunjungi Laota sekaligus mengisi perut yang sudah meraung-raung.

Mencari spot parkiran cukup sulit di sekitar Laota yang beralamat di Jalan Raya Kuta karena banyak tempat makan berjejer di sepanjang jalan ini. Setelah sukses memarkir, kami pun segera masuk ke Laota. Beberapa blog merekomendasikan Bubur pelangi.Jadi saya memesan bubur pelangi sementara suami memesan bubur seafood. Saat membaca menu ternyata Laota ada juga di sunset road (fyi, hotel saja terletak di sunset road)… yasudahlah yang penting sudah sampai.

Kunjungan terakhir kami sebelum ke hotel adalah Krisna mumpung deket banget dengan hotel. Akhirnya kami tiba di Hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga untuk perjalanan besoknya.

 

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s