Bali – Third Day

Pada hari ketiga, kami rencana mengunjungi beberapa pantai di selatan Bali. Namun sebelumnya kami mengunjungi beberapa pantai dekat Benoa.

Setelah sarapan, kami bersiap-siap dan memulai perjalanan menuju pantai Nusa Dua. Kalau kata teman saya, “American Style beach”. Pantai yang sangat tenang, cukup aman untuk berenang. Beberapa bagian pantai sudah dijadikan resort oleh hotel tertentu. Resort yang kami kunjungi pada hari ketiga adalah Melia. Menyusuri sepanjang pantai dan setelah puas menikmati pantai ini, kami melanjutkan perjalanan kami ke Water blow dengan jalan kaki. Cuacanya benar-benar panas dan banyak pohon di sana yang entah meranggas atau kering, bahkan beberapa bagian rerumputan di sana juga kering.

Pantai Nusa Dua

Pantai Nusa Dua

Nusa Dua area

Nusa Dua area

Water blow adalah pantai yang penuh dengan karang. Yang menarik dari pantai ini adalah ombaknya yang membentur karang. Ada sebuah jembatan di sana yang dapat digunakan untuk menikmati “tamparan ombak” ataupun hanya menikmati deburan ombak ketika bertemu karang. Beberapa kali suami berusaha mengambil gambar ombak namun kurang memuaskan. Ternyata mengambil gambar cukup susah ya. Setelah puas menikmati deburan ombak kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pantai Pandawa yang kalau dari peta menghadap Samudra Indonesia.

Waterblow

Waterblow

Memasuki Pantai Pandawa, kami melewati dinding kapur yang sepertinya dikeruk untuk membuka jalan menuju pantai. Terlihat dari tempat yang lebih tinggi pun, pantai ini sangat cantik. Sepanjang jalan menuju pantai, terdapat beberapa patung dewa ataupun dewi yang dipahat di dalam dinding kapur yang sebelumnya sudah dibolongi. Pasir pantai sangat cantik, warna biru lautnya benar-benar cantik dan ombaknya masih bersahabat sehingga cukup aman untuk berenang. Walaupun cuacanya sangat terik, angin yang bertiup sangat sejuk bahkan air laut nya terasa dingin. Kami menghabiskan beberapa waktu di pantai dengan bermain air dan berjemur (halah, sok bule!) sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.

Tebing Kapur

Tebing Kapur

????

Melihat ke arah pantai

Melihat ke arah pantai

2014827121306-1

Cukup puas dengan menikmati pantai dan perut sudah mulai keroncongan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu Bebek bengil di kawasan Garuda Wishnu Kencana (GWK). Mungkin karena cabang di GWK adalah baru sehingga wisatawan belum familiar dengan cabang ini sehingga ketika kami ke sana, restoran serasa milik berdua (weeeek). Cukup puas dengan menikmati bebek dan melihat tagihannya, kami melanjutkan perjalanan mengunjungi pahatan Dewa Wishnu dan Garuda. Sebelumnya saya berpikir dalam kawasan ini hanya ada patung pahatan tersebut. Ternyata ada beberapa fasilitas lain di area ini dan kalau malam, jalan masuk menuju GWK nya cukup cantik. Pantes saja lah ya harga masuknya mahal (domestik : 50.000 ; mancanegara : 100.000). Kami sempat melihat pertunjukan salah satu tarian Bali di amphiteather. Pertunjukan dilakukan setiap satu jam sekali selama 30 menit. Bahkan ada pertunjukkan tari kecak juga di sini lho sekitar jam 6 kalo gak salah. Nah pertunjukkan ini sudah termasuk harga tiket masuk lho. Namun, kami memutuskan untuk menonton tarian kecak di tempat lain.

Satu set bebek + Spaghetti

Satu set bebek + Spaghetti

Dewa Wishnu

Dewa Wishnu

Pertunjukan Tari

Pertunjukan Tari

Setelah GWK, kami menuju Pura Uluwatu. Well, di pura ini ada beberapa ekor monyet. Monyetnya nakal bahkan lebih nakal daripada di Alas Kedaton, jadi hati-hati terhadap barang bawaan ya kalau ke sana. Dari tempat parkir, kami diberikan secarik kain untuk menutupi bagian bawah badan kami dan melewati jalan yang menurun menuju kompleks pura. Setelah itu kami harus mendaki beberapa anak buah tangga menuju pura yang tertutup untuk pengunjung. Saya sebenarnya agak khawatir mengingat kandungan saya yang baru berusia sekitar 5 minggu. Saya hanya berpikir positif dan menghilangkan rasa kekhawatiran saya demi menikmati liburan. Menuju tebing, pengunjung dapat menikmati indahnya laut dan  buih-buih air laut ketika bertemu tebing yang curam. Dari tebing tersebut biasanya pengunjung akan menuruni beberapa anak tangga dan menyusuri jalan menuju ujung tebing yang satunya. Karena saya mengurangi aktivitas yang melelahkan, akhirnya kami memutuskan untuk tidak menyusuri jalan ini. Puas mengambil beberapa foto dan menunggu pertunjukkan tari kecak, kami menyusuri jalan dan menunggu di dekat tempat biasa menjual tiket masuk pertunjukkan tari kecak.

????????

Tari kecak dimulai sekitar jam 6 sore. Beberapa guide akan menyarankan turisnya untuk mengambil tempat duduk yang menghadap sunset. Jangan duduk di barisan paling bawah ya kalau tidak mau dikerjai pelakon pertunjukkan. Pertunjukkan dimulai dengan nyanyian paduan suara oleh beberapa pria penari kecak. Tarian ini digabungkan dengan beberapa bagian cerita Ramayana. Selain ada unsur tarian, daa juga unsur lawak yang dilakoni hanoman yang tiba-tiba muncul entah di bagian mana dan mengusili penonton, juga dilakoni oleh anak buah Rahwana.

Langit sore

Langit sore

Tari Kecak

Tari Kecak

Menurut salah satu guide, berbeda dengan tarian kecak di tempat lain, tarian kecak di uluwatu ini sakral. Saya tidak tahu apakah tarian kecak lainnya didahului dengan doa oleh pendeta. Di uluwatu, dimulai dahulu dengan doa. Apakah itu yang membuat tarian di uluwatu adalah tarian yang sakral? Pertunjukkan selesai sekitar jam 7-an. Sayangnya beberapa wisatawan pulang ketika Rahwana memberikan kata sambutan. Mungkin dikira Rahwana menyampaikan kata penutup ya. Setelah pertunjukkan selesai, pengunjung berebutan mengambil foto bersama para penari. Karena berebut, penerangan yang tidak memadai dan muka yang sudah berminyak, hasil foto saya kurang bagus😀

Hanoman burned

Hanoman burned

Pengunjung pulang di waktu yang bersamaan, jadi bisa dibayangkan kan betapa macetnya  jalan dari Pura Uluwatu. Sebenarnya sepanjang jalan, ada tempat makan terkenal yaitu Ayam Bu Oki. Beberapa referensi mengatakan, ayam yang dijual adalah ayam betutu. Mungkin karena sepertinya suami saya kurang cocok dengan ayam betutu, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan di sekitaran kuta. Tempat makan yang mau kami kunjungi adalah Warung babi guling Pak Malen. Nah menurut sebuah sumber, bumbu babi Pak Malen ini masih original Bali berbeda dengan Babi Guling Bu Oka yang sudah dimodifikasi menurut selera wisatawan.

Beberapa blog mengatakan Warung Pak Malen ini berada di ujung Sunset Road, di persimpangan Sunset Road dan Jl.Imam Bonjol. Kami sudah bolak -balik melewati sunset road bahkan ke Jl.Imam Bonjol, namun kami tidak dapat menemukan warung ini. Bahkan saat bertanya kepada orang sekitar, tidak ada satupun yang mengetahui lokasi warung Pak Malen. Nyerah karena cape dan tidak mau melewati macetnya Kuta, kami pun kembali ke Hotel. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan namun menarik.

Ternyata, pada hari kedua terakhir kami di Bali, by accident kami menemukan Warung Pak Malen. Letaknya di sebrang Sunset Point dekat tikungan jalan ke arah seminyak.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s