Bali – Fourth Day

Di hari keempat, kami mengunjungi Kintamani sebentar kemudian lanjut ke daerah Ubud.

Perjalanannya cukup jauh seperti hari ke dua. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah restoran untuk melihat view Gunung Batur di mana ada danau yaitu danau Batur di kawasan itu juga. Danau ini cukup unik karena berada di ketinggian. Restoran yang kami pilih adalah Restoran Batur Sari. Beberapa bagian depan gunung terlihat seperti bekas terbakar, mungkin hasil dari letusan gunung berapi kah? Udaranya sangat segar walaupun matahari sedikit terik. Pemandangan yang luar biasa apalagi ditambah pemandangan danau yang menarik. Puas menikmati pemandangan gunung dan danau, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Ubud. Di sepanjang jalan, ada beberapa penjual yang menjual jeruk khas bali. Tenang, jeruk ini juga bisa ditemukan di beberapa pasar tradisional Jakarta. Rasanya cukup berbeda dengan jeruk pontianak ataupun medan. Agak asam seperti jeruk sunkist dan wanginya juga mirip sunkist. Kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil gambar bersama danau, Nah di area tersebut ada papan informasi yang menjelaskan awal terbentuknya Danau Batur.

View from Restaurant

View from Restaurant

Lake & Mountain view from top

Lake & Mountain view from top

Kami terus melanjutkan perjalanan kami. Kami rencananya mengunjungi Tirta Empul dan Tegallalang Rice Field. Tempat ini cukup baru bagi suami saya jadi kami agak khawatir kami tidak bisa mengunjungi semau daerah tujuan kami hari ini. Awalnya kami mau cancel Tegallalang, tetapi karena Tegallalang berada di tengah-tengah menuju Tirta Empul, akhirnya kami tetap ke sana. Sepanjang jalan dari kintamani menuju ubud, banyak pemandangan yang menarik, perkebunan di sana sini khususnya perkebunan jeruk. Ingin rasanya turun dan menikmati pemandangan tersebut dan kalau bisa memetik jeruk-jeruk yang ranum. Kami hanya singgah sebentar di Tegallalang Rice Field. Di Toraja, pemandangan terasering dapat saya temui juga. Namun Tegallalang cukup menarik. Perbukitan yang berkelok-kelok di mana semua area dibuat menjadi area persawahan dengan sistem terasering.

Rice fields

Rice fields

Karena dirasa waktu tidak cukup, kami membatalkan perjalanan kami ke Tirta Empul dan langsung menuju Warung Babi Guling Bu Oka. Agak sulit menemukannya. Sepertinya koordinat yang kami masukkan ke gps kurang tepat. Tidak semua orang di sekitar tahu letak Babi Guling Bu Oka. Akhirnya setelah bertanya pada sumber yang tepat, kami mendapatkan informasi yang digunakan hingga tiba di warung Bu Oka. Ternyata, untuk menuju Babi Guling Bu Oka, kami harus melewati Ubud Monkey Forest. Kami memesan porsi campur bukan pisah. Ada babi guling yang dibumbui, semacam sosis (sepertinya dari darah), sayur khas Bali, kulit babi yang crispy dan babi goreng. Entah mungkin kami bukan pecinta fanatik daging babi atau belum terbiasa dengan cita rasanya, kami rasa agak biasa kecuali babi goreng nya (babi gorengnya enak!)

Babi Guling  Bu Oka

Babi Guling Bu Oka

Setelah kenyang, kami mengunjungi Museum Blanco. Kami sebenarnya bukan pecinta seni atau orang yang sangat mengerti seni.However, it’s a new experience right? Spesialisasi Alm.Antonio Blanco adalah obyek manusia. Hampir semua lukisannya adalah wanita dan vulgar. Buat orang seni, ini bukan vulgar, ini adalah seni. Saya ingat, ketika kecil saya pernah menonton beberapa kali sinetron yang menceritakan kisah hidupnya. Di Museum ini juga dipamerkan beberapa karya Mario Blanco yang spesialisasinya lebih ke arah objek benda/buah. Di sini juga kita bisa melihat rumah pertama Alm. Antonio Blanco. Kita juga bisa berfoto dengan beberapa burung yang sudah dijinakkan.

Museum Gate

Museum Gate

With Antonio Blanco

With Antonio Blanco

With birds

With birds

Setelah berkeliling dan menikmati pemandangan dari lantai atas museum, kami agak buru-buru menuju Kuta. Rencananya kami ke Woo Bar untuk menikmati sunset. Somehow, macet sepertinya rindu kepada kami. Di sepanjang jalan menuju Kuta, jalanan benar-benar macet. Mungkin ada masalah dengan jembatan yang di depan jalan sehingga kendaraan berpusat pada jembatan lainnya. GPS tidak membantu kami menemukan Woo Bar. Akhirnya kami memutuskan untuk ke La Plancha yang berada di pantai Kuta. Setelah berkeliling dan melewati macet tibalah kami di parkiran dan menurut security, La Plancha hanya sekitar 1 menit dari tempat itu. Well, ternyata ada beberapa cafe/bar yang memiliki konsep yang sama dan berderet. Kami lihat dari ujung hingga ujung, sepertinya tidak ada La Plancha. Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati sunset di salah satu cafe. Kalau tidak salah namanya Teras Bali. Puas menikmati minuman dan semilir angin, kami kemudian menyusuri pantai Kuta dan selanjutnya kembali ke Hotel.

Enjoying sunset

Enjoying sunset

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s