About Marriage

JpegThis is a post written by someone that has been married for just four months and several days. I’m neither a marriage consultant nor marriage expert. Hence, I’m just sharing what I’ve got during this time here not preaching😛

I divide life stage into three parts : single, in relationship and married.

*selanjutnya pakai bahasa indonesia aja ya :D*

Kalau single, kita bebas dalam artian bebas jalan dengan siapapun, bebas ke manapun, bebas ngapain. Kalau single, mau jalan berduaan dengan lawan jenis juga tidak masalah kecuali dia udah punya pacar ya. Selain itu, tidak ada perasaan yang harus kita perhatikan, hargai atau consider. You can do whatever you want.

Kalau in relationship, ada sedikit kebebasan yang “direnggut”. Tidak bisa terlalu bebas ke manapun ataupun ngapain. Kita punya seseorang yang perasaannya harus kita hargai, harus kita consider dan antara kita dan pasangan pula beberapa rule selama dalam berpacaran. Namun, karena hidupnya tidak bersama, kita tidak perlu mengurus pasangan kita, kita tidak perlu merawat seseorang dan aturan di rumah atau kost-an bisa kita atur sendiri.

Kalau married, kita sudah bersatu dengan pasangan kita. Kalau dalam Alkitab dikatakan CucuFoto_ IMG_0220_pp_compresssudah menjadi satu. Karena sudah menjadi satu, tentu saja ke mana-mana bersama pasangan. Agak jarang kayaknya pergi tanpa pasangan. Seperti kata teman saya, beda dengan ketika waktu berpacaran. Kalau udah nikah, kayaknya agak gimana gitu kalau keluar-keluar hanya sekedar hangout bareng temen. Bukan karena dibelenggu atau tidak dibebaskan pasangan, tetapi rasanya kurang sreg aja kalau sering hangout tanpa pasangan (you can understand the feeling here lah). Selain itu, ada orang yang kita rawat (istri merawat suami, suami merawat istri), peraturan di rumah dibuat bersama bukan seenak udel, dan menafkahi atau sharing nafkah.

Cuma kalau single, ga ada orang yang bisa support kamu, dengar keluh kesah kamu atau memberikan saran yang bisa dipertimbangkan. Bisa jadi kamu punya sahabat yang selalu ada buat kamu tetapi waktu , perhatian ataupun saran yang diberikan pasti gak seperti yang diberikan oleh pacar. Sahabat belum tentu ada waktu kamu punya waktu darurat yang bener-bener butuh seseorang untuk mendengar ceritamu ataupun masalahmu.

Pacar bisa memberikanmu saran-saran yang luar biasa, waktu kapanpun kamu butuh atau sekedar pelukan dan pundak ketika kamu butuh sandaran. Pacar bisa selalu ada buat kamu seperti IGD ketika kamu tiba-tiba butuh dia saat-saat daruratmu, saat kamu bener-bener putus asa. Namun, ketika kamu pulang kerja dan butuh pelukan sepanjang malam, pacar tidak bisa memberikan (kecuali kamu kumpul kebo ya). Pacar bisa memberikanmu waktu kapanpun kamu perlu, tetapi kamu tidak bisa menghabiskan waktu 24 jam, di rumah , santai, ngobrol apapun dengan pacarmu karena pasti ada perpisahan (permisi oom… saya mau pulang dulu. Sayang, pulang dulu ya besok ketemu lagi).

20140610_135708 (2)Ketika kamu menikah, saat lelah ketika pulang kerja, ada orang yang bisa kamu melepas kepenatan di rumah. Ada orang yang bisa mendengar semua ceritamu sepanjang malam, memelukmu sepanjang malam. Membicarakan apapun, mengerjakan apapun bersama seperti satu jiwa walaupun di dalam dua tubuh (nah makanya dibilang kalau nikah itu dua menjadi satu). Kamu punya soulmate (bisa ngebayangin kan gimana rasanya punya soulmate). Tidak ada perpisahan karena kalian tinggal di rumah yang sama (gak ada tuh yang sayang, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok) and just you, no others.

Buat saya, tiap stage butuh waktu tertentu untuk kita alami jadi nikmati aja karena tiap stage punya kelebihan dan kekurangan masing -masing, Jadi, sorry sorry banget nih , saya agak males kalau denger orang yang ngomong, gue nyesel nikah nih. Nyesel , kenapa baru sekarang nikah kenapa ga dari dulu aja ya (padahal umurnya belum 25 tahun). Apa karena setelah nikah jadi bebas di atas tempat tidur bersama lawan jenis, apa karena setelah nikah jadi ad ayang ngerawat? Kayaknya kalau alasannya cuma dua alasan itu, terlalu dangkal deh. Atau orang yang terlalu sibuk ngurusin orang – orang yang masih betah belum nikah, kok belum nikah sih? Udah umur tuh. Kapan nyusul nih? Makin tua makin susah lho. Hellooooo, tiap orang punya waktu yang berbeda untuk setiap stage.

Baik, segitu saja pembukaannya. Mari ke inti masalahnya *busyet, pembukaan doang panjangnya segitu*

Saya bersyukur, dalam masa pacaran yang cukup singkat yaitu sekitar satu tahun dua bulan, saya cukup mengetahu karakternya seperti apa, value yang dia pegang , mood nya seperti apa, kebiasaannya bagaimana, genitnya bagaimana (lhooo…). Jadi ketika menikah, saya tidak kaget walaupun ada beberapa hal mengenai dia yang baru saya ketahui setelah menikah. Namun hal-hal itu adalah “fitur tambahan” bukan “platform” nya.  Fitur tambahan ini seperti dia tidurnya bagaimana, selera mengenai makanan, kebiasaannya, pengaturan waktu terutama saat weekend yang menurut saya emang baru ketahuan kalau tinggal bersama dan sedikit mengenai value/ karakter. Saran saya, pergunakan waktu berpacaran dengan sebaik mungkin jadi isinya bukan hanya jalan bareng doang tetapi masing – masing pakai topeng. All out aja, semua karaktermu, mood ataupun bentuk emosi dikeluarin aja. Intinya, jangan sampai setelah menikah kamu kaget seolah-olah tidak mengenal pasanganmu atau berpikir bahwa orang yang kamu nikahi ini berbeda dengan orang yang kamu pacari. Jadi menikah itu rasanya seperti pacaran tetapi kalian serumah aja.

Saya menikmati pernikahan saya. Ada orang yang menemani saya sepulang kerja, makan DSC_2133 (2)bareng, beristirahat menghilangkan kepenatan setelah bekerja. Setelah bekerja dengan tekanan yang cukup berat sehingga yang saya butuhkan hanya pelukan dan belaian kasih sayang, ada orang di samping saya, bersama-sama dengan saya yang bisa memberikan. Di awal pernikahan, saya sedikit kaget terutama weekend karena baru terungkap mengenai pengaturan waktu ketika weekend dan pekerjaan rumah. Begitu juga dengan selera makanan. Well, untungnya pas pacaran sudah tahu beberapa hal mengenai selera makanannya jadi ketika menikah hal-hal tersebut adalah enhancement. Intinya adalah komunikasi , keterbukaan dan penyesuaian. Komunikasi sangat penting dalam pernikahan (ini juga kata beberapa orang yang sudah cukup lama menikah lho). Komunikasi dalam pacaran aja penting apalagi dalam menikah. Keterbukaan mengenai apa yang kamu suka, apa yang kamu gak suka, apa yang kamu keberatan mengenai dia, atau butuh kejelasan mengenai hal-hal tertentu yang daripada mengasumsi sendiri. Keterbukaan cukup sulit dan bisa berpotensi menimbulkan pertengkaran and I admit it. Namun, setelah keterbukaan, ada perasaan lega dalam hati. Selain itu penyesuaian juga penting. Seperti kata Agus Gurniwa dari film jomblo, tidak ada orang yang benar-benar sama jadi yang dibutuhkan adalah saling mengerti. Dua orang yang berbeda karakter (kadang malah berseberangan) dan dibesarkan oleh keluarga yang berbeda yang tentu saja memiliki tradisi yang berbeda, pasti sangat berbeda dooong. Oleh sebab itu, pengertian dan penyesuaian dibutuhkan untuk bertemu titik tengah. Jadi, butuh menjadi orang yang fleksibel untuk bersesuaian dengan hal-hal yang ditolerir.

Mungkin dalam menikah, kita bisa saja merasa lelah dan putus aja. Ingat saja, bahwa yang menyatukan suami dan istri menjadi satu adalah Tuhan. Pernikahan adalah komitmen bukan hanya sekedar hidup bersama atau kebebasan melakukan hubungan kelamin. Komitmen untuk menghabiskan sisa hidup kita (ya sekitar 2/3 dari umur kita) bersama orang yang kita pilih menjadi pasangan kita. Seperti yang pernah dia katakan (dengan perubahan seperlunya), kamu adalah keluargaku, aku adalah keluargamu. Kita bersama-sama untuk waktu yang cukup lama jadi segala sesuatu yang mengganjal dalam hati harus dibereskan.

20141026085527Saya belajar bahwa pasangan adalah orang yang tedekat dengan saya, belahan jiwa (if you really understand what soulmate means), bagian dari jiwa saya yang berdiam di tubuh yang berbeda. Sya juga masih tetap belajar bahwa dia adalah orang yang bersamanya saya menghabiskan sisa umur saya, orang yang saya bertemu ketika di rumah, menghabiskan waktu bersama dan berbagi apapun yang ada dalam hati saya. Saya juga masih belajar bahwa masih ada penyesuaian yang tetap akan dilakukan oleh kami terutama ketika anggota keluarga kami bertambah.

Rasanya, hanya itu yang saya bisa share dari pengalaman saya yang masih sangat dini ini.

DSC_2029

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Marriage. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s