My Very First Project

Throwing back, my very first project as far as I can remember was when I was on college at 2nd grade. Well, it wasn’t a really big project though even for a college student. However, first experience is always exciting, isn’t it?

Ketika kuliah, saya bergabung dalam satu organisasi agama di kampus, tepatnya dalam sebuah divisi yang mengurus media internal. Setiap tahun, bertepatan dengan salah satu perayaan keagamaan, divisi ini biasa menerbitkan sebuah buletin. Mendekati waktu perayaan tersebut, saya berbincang dengan koordinator divisi saya mengenai pemimpin redaksi. Saya excited untuk menjadi calon pimred. Selain being a leader dari redaksi saat itu membuat saya tertarik, mungkin saya juga ingin “menebus” kekurangan saya yang jarang mengikuti pertemuan mingguan. Pertemuan mingguan ini sayangnya bertabrakan dengan pertemuan mingguan himpunan saya di mana kehadiran saya adalah mandatory. Sebenarnya sih saya sudah lobby ke pembuat jadwal pertemuan himpunan ini agar dipindahkan ke hari lain, namun sepertinya impossible.

bulletin 2Tibalah pertemuan mingguan divisi ini untuk membahas pimred. Ketika koordinator meminta sukarelawan untuk menjadi pimred, tebak siapa yang mengangkat tangan? ya, CUMA SAYA. Sepertinya teman-teman tidak senekat saya. Jadi, tanpa persaingan yang berarti (halah!), saya akhirnya terpilih menjadi pimred (beberapa detik sempet takut, Can I do this?)

I’m good neither in writing articles nor designing layout, I can only do coordinate, oleh bulletin 1sebab itu saya menunjuk dua teman saya menjadi koordinator artikel (saya benar-benar tahu bahwa dia jago banget untuk masalah tulis menulis artikel) dan koordinator desain (dia juga orang yang ahli dalam desain. Sebenarnya ada yang lebih ahli, sayangnya sudah meninggalkan divisi ini). Harapan saya, sang koordinator artikel membantu saya mengkoordinasi pembagian penulisan artikel, penyaringan artikel, penyuntingan artikel. Arahan dari saya cuma satu, buatlah artikel yang easy reading, tidak menjemukan, tetapi memiliki makna/pengetahuan untuk yang membaca. Artikel dipilah-pilah, ada artikel utama yang seperti khotbah, ada artikel sampingan yang santai seperti pengetahuan tentang perayaan atau joke atau artikel sederhana lainnya. Begitu juga yang saya harapkan dari koordinator desain untuk mengkoordinasi thema desain, pembagian desain dan review desain sehingga desain di setiap halaman bisa nyambung. Oh ya, selain itu, saya juga dibantu teman saya yang spesialis di bidang percetakan yang tentu saja untuk masalah cetak buletin ini ketika artikel dan desain sudah OK.

Seperti project yang ga afdol disebut project kalau tidak ada issue, begitu juga dengan project kami ini. Ketika project ini dijalankan, saya dan teman-teman sedang dalam suasana UTS. Untuk jurusan saya, tidak ada waktu khusus untuk UTS jadi masa UTS digabung dengan praktikum bahkan kuliah biasa😦 Issue nya bukan hanya ini. Issue terbesar adalah dana seperti issue yang pada umumnya ditemui oleh kegiatan-kegiatan mahasiswa. Dana yang dialokasikan oleh panitia untuk buletin sangat kecil hampir tidak ada sementara target jemaat yang datang sangat besar (saya lupa angka pastinya). Jujur, sebagai manusia saya sempat protes kenapa kondisi seperti ini menimpa kami di saat musim UTS. Kalau panitia bisa menargetkan jumlah jemaat yang datang sangat besar, kenapa gak mengalokasikan dana yang cukup buat buletin. Well, karena belum terbiasa deal with the condition saat project, saya sempet kecewa. Namun, itulah kondisi yang dihadapkan kepada kami. Sekarang kami harus berpikir bagaimana deal with this condition. Saya juga tidak mau meminta team untuk mencari dana tambahan misalnya ngamen atau jualan karena saya tidak mau mengganggu UTS mereka (ya masa gara-gara nyari dana nilai mereka jeblok >.<) Jadi, kami harus berpikir bagaimana dengan dana se-minimal mungkin bisa menghasilkan jumlah buletin yang sama dengan target jemaat.

Long story short, kami memutuskan buletin ini tidak dicetak di percetakan tetapi foto copy. Well, maybe it was the poorest bulletin ever. Jadi mitigasi yang saya pikirkan adalah pertama, desain harus sedikit dirombak dan dibuat sedemikian rupa sehingga ketika di-fotokopi, hasilnya tetap bagus dan tidak membuat pembaca kesulitan membaca. Karena, feel desain nya bagus mungkin susah diperoleh karena fotokopi, akhirnya kompensasinya saya arahkan ke artikel. Kedua, saya minta kepada koordinator artikel dan team artikel untuk membuat artikel semenarik mungkin sehingga pembaca tetap tertarik untuk membaca halaman demi halaman walaupun desain nya pas-pas an.

bulletin 3Puji Tuhan, dana yang dialokasikan cukup dan pendapat saya secara pribadi (objective sebagai individu bukan pimred), desain nya cukup baik dan artikelnya menarik. Saya tidak tahu tanggapan pembaca karena tidak ada survey. Akan tetapi saya bersyukur dan terharu melihat teman-teman team yang bekerja keras membuat artikel dan desain bahkan sampai larut malam. Saya tidak tahu apakah mereka mengalami masalah selama membuat buletin ini karena saya tidak mendapatkan protes dari mereka. Saya juga terharu walaupun buletin yang diterbitkan tidak menjadi the best secara tampilan karena keterbatasan, tetapi mereka tetap mau bekerja menghasilkan artikel ini agar dapat dinikmati oleh jemaat yang datang.

Ketika saya melihat ke belakang, saya berpikir apakah Project Management adalah tempat saya?

Image resources :

http://www.gudaitisdesign.com

abhinavpmp.com

http://www.tinkerbellchime.com

 

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in My Stuff. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s