I was so proud of Papua until several days ago…

teluk yotefaSatu hal yang saya banggakan dari tanah di mana saya dibesarkan, yaitu tanah Papua adalah tidak ada sifat rasis. Benar, dalam MOP yang kami ceritakan , ada beberapa suku yang ambil peran dalam cerita tetapi hal itu cuma untuk menunjukkan ke-khas-an tiap suku dan tidak ada tendensi ke arah rasis. Saya bahkan tidak pernah tahu bahwa ada berbagai macam suku hingga sekitar kelas 1 SD. Saat itu, saya hanya tahu ada suku Toraja dan Batak, selebihnya satu suku karena saya menganggap semua sama. Pengetahuan saya (karena memang dasarnya saya suka bertanya dan kepo) kemudian berkembang bahwa ada beberapa suku di Indonesia. Bahkan ketika kelas 5 SD saya baru tahu ternyata selain suku “asli” Indonesia, ada juga warga turunan. Namun hal itu tidak mempengaruhi saya. Saya dan teman-teman saya tidak pernah melihat orang dari suku nya. Untuk sekedar becanda pun, kami tidak pernah menyinggung suku. “Dasar Toraja kau!” saja tidak pernah keluar dari mulut kami. Walaupun kami tahu suku asli kami masing-masing dan masih memelihara adat istiadat kami, namun hati kami, dialek dan bahasa kami adalah Papua. Kami bahkan benar-benar mencintai Papua.

Saya agak terusik ketika saya melanjutkan kuliah di salah satu kota di Pulau Jawa di mana orang Papua (baik pendatang maupun asli) sangat sangat jarang di kampus ini. Salah satu teman saya doyan sekali memanggil saya, “Papua!”, atau “Dasar Papua!” atau “Papua Kau!” . Pertama-tama, tentu saja saya sangat tidak nyaman dengan panggilan atau candaan yang memiliki tendensi ke arah rasis. Lama-lama, saya tidak care dengan panggilannya dan menganggap seperti angin lalu. Maaf, saya memang tidak terbiasa dengan candaan model ini karena saya tidak pernah mengalami hal tersebut selama saya di Papua.

Saya juga mengerti kenapa orang Papua benar-benar marah ketika salah satu mahasiswa tari sentanialmamater saya menghina orang Papua dengan kata-kata yang kurang pantas hanya karena klub bola pilihannya kalah dari Persipura. Kami memang tidak terbiasa dengan segala sesuatu berbau rasis walaupun hanya sekedar panggilan atau candaan. Kami tidak pernah melihat seseorang dari sukunya.

Akan tetapi, beberapa hari lalu kebanggan saya sepertinya agak luntur. Saya melihat ada beberapa teman saya membuat status mengenai perem tanah dan amber. Memang sudah beberapa tahun ada kecenderungan pembatas antara pribumi dan pendatang. Namun, saya tidak menyangka bahwa status beberapa teman saya sudah nyerempet ke hal tersebut which is artinya sudah terang-terangan. Saya agak kecewa akan hal ini.

Kita marah kalau ada orang yang menghina Papua. Saya juga marah kalau ada orang yang menghina Papua atau sok tahu tentang Papua. Namun kenapa kita sendiri mulai memiliki sifat rasis tersebut?

Saya cukup mengerti mengapa gap ini muncul. Dimulai dari kesenjangan sosial yang terjadi, orang pendatang datang kemudian kok seolah-olah menjadi bos. Apalagi ketika tahun-tahun pertama Papua masuk ke Indonesia, banyak terjadi pelanggaran HAM. Namun, apakah semua amber sejahat itu? Pemerintah pusat seolah-olah cuek dengan Papua. Kekayaan Papua dikeruk habis-habisan tetapi pembangunan nihil. Apakah semua amber di Papua seperti orang pusat? Saya rasa, dari sisi amber, kami juga menjadi korban “sikap anak tiri” ini. Kami bekerja bukan di kampung halaman kami dan kami kurang merasakan pembangunan karena tanah di mana kami hidup tidak diperhatikan pemerintah pusat.

sentaniSaya tidak memungkiri banyak amber yang bekerja sebagai PNS tetapi hanya makan gaji buta. Mungkin banyak amber yang memegang jabatan dan menggunakan jabatan itu untuk mengambil uang yang bukan miliknya. Namun, apakah semua amber seperti itu? Masih banyak amber yang mau ke pedalaman mengajar anak-anak pedalaman, menjadi tenaga kesehatan di sana. Masih ada pejabat amber yang bersih. Ada juga tanah yang mengambil uang bukan miliknya (sudah ada yang tertangkap kan), ada juga tanah yang hanya memperkaya diri sendiri sehingga saudara-saudara yang di pedalaman yang berhak mendapatkan dana, tidak menikmati dana tersebut sama sekali. Ada juga tanah yang begitu peduli dengan Papua, dengan pendidikan di tanah Papua dan rela membanting tulang demi kemajuan Papua. Banyak tanah yang cerdas dan berpendidikan, memiliki hati yang luar biasa untuk Papua.

Semua, baik tanah maupun amber ada yang baik, ada yang jahat. Somehow, saya masih merindukan suasana masa kecil saya di mana semua orang terlihat sama. Tidak membeda-bedakan berdasarkan suku atau pendatang – pribumi.

Biar rambut saya lurus, kulit saya kuning langsat, saya tetap PAPUA.

Gambar diambil dari :

http://travelkekerz.com

http://tempatwisata27.blogspot.com

http://www.griyawisata.com

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in My Stuff. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s