When He’s Born…

2015408030153Postingan ini sebenarnya, seharusnya sudah dibuat entah kapan tahun. Namun rasanya kok males ya menulis hal ini. Disimpen saja dalam hati dan menceritakannya jika ada yang bertanya.

Hari ini, saya membaca sebuah postingan di facebook dan menggugah saya untuk menulis artikel ini. Actually, artikel ini mengenai kelahiran anak saya.

Tanggal 7 April 2015, saya masih masuk kantor. Kandungan genap 38 minggu. Jadi besoknya masuk minggu ke 39. Sebenarnya agak khawatir, kok udah umur begini belum ada kontraksi palsu, belum ada tanda-tanda ya. Hari Jumat sampai Minggu saya emang melakukan kegiatan fisik yang agak banyak (kebetulan libur). Susternya sih bilang gak papa, malah bagus. Tanggal 7 April ini, ketika saya di kereta (duduk tentunya) menuju kantor, perut saya terasa kram. Mungkin inikah yang disebut kontraksi palsu? Perutnya doang yang sakit, kayak mens tapi agak lama dan tidak beraturan. Anggap saja kontraksi palsu. Apalagi setelah di kantor ga ngerasain lagi. Suami saya udah bilang, kandunganmu umur 39 minggu langsung cuti aja ya (berarti minggu depannya) soalnya udah begah banget kelihatannya.

Akhirnya, hari itu (7 April 2015), saya insert cuti untuk minggu depannya. Maklum, mak mak hemat  pelit cuti. Semua orang yang saya temui selalu bertanya, kok belum cuti? Ya ampun perutnya udah gede banget. Kok belum lahiran?

Malamnya, saya berkegiatan seperti biasa. Lagi melipat-lipat pakaian sambil duduk di lantai. Rasanya perut ini kok sakit ya seperti sakit banyak angin, nahan kentut. Akhirnya ganti posisi duduk jadi jongkok. Selesai melipat pakaian dan rasanya lelah banget, kami pun mau tidur. Ketika siap-siap mau tidur (matiin lampu, cek pintu & kaca), saya rasa seperti dapet. Ketika mengecek, di CD saya ada darah seperti dapet. Paniknya luar biasa soalnya kata suster ketika daftar kamar untuk lahiran, jangan sampai ada darah segar. Kalau sampai ada darah segar, harus segera ke RS. Tanda-tanda lahiran kan lendir dan darah tapi ini kok kayak darah mens. Akhirnya saya menyuruh suami saya menelpon RS. Gak diangkat-angkat doooong. Setelah darah itu keluar, saya pun merasakan mules hingga ke pinggang (well, it’s called kontraksi) dan munculnya beraturan tiap waktu tertentu. Sempet berpikir positif ini kayaknya mau lahiran. Ya, darah karena mau lahiran atau masalah kan tetep harus ke RS dong. Saya masih panik, takut kalau bayi saya kenapa-napa sampai saya berteriak, “Tuhan Yesus tolong!!!!”. Sambil berganti pakaian, suami saya menelpon RS dan mengambil tas yang sudah disiapkan. Oh iya, darah keluar sekitar jam setengah 9 sampai 9 kurang 1/4. RS pun menyuruh kami ke sana. Akhirnya kami keluar naik motor ke stasiun. Sampai di stasiun, kereta tidak sebanyak jam orang kantor pulang dan pergi. Kereta yang ada cuma sampai Depok T.T ketar ketir dooong. Sambil inget pengalaman kakak ipar yang katanya waktu dia mau lahiran, keluar darah pas mandi. Ah sepertinya saya mau melahirkan bukan bayi saya bermasalah.

Rencananya kami naik kereta ke Cikini karena lebih dekat dengan RS. Namun setelah pikir-pikir apalagi mengingat tangga stasiun Cikini yang segitunya, akhirnya kami memutuskan untuk sampai stasiun Manggarai saja dan lanjut dengan taxi. Sambil menunggu kereta dan di dalam kereta, kami menghubungi orang tua kami dan saudara-saudara kami. Kami masing-masing larut dalam pemikiran dan doa masing-masing. Kontraksi pun makin kenceng dan beraturan. Saya pake stopwatch lho untuk mengamati interval kontraksi sambil takut-takut jangan sampai lahiran di jalan.

Setibanya di RS (sekitar jam 10 malam), ketemu sama suster. Susternya juga kaget dari Bogor bisa nyampe dan dikiranya cuma ada keluhan, ternyata mau lahiraaaaaaaaaaaan. Mulailah dilaksanakan prosedur pemeriksaan. Tekanan darah diperiksa, ditanya bagaimana hasil kontrol terakhir. Semua sih fine kata dokternya. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan EKG. EKG harusnya takes time sekitar 10 menit. Susternya agak bingung nih kayaknya kurang bagus hasilnya. Suster kemudian menyuruh saya untuk tenang, tidak panik soalnya tiap kontraksi, denyut jantungnya di bawah standar namun jika tidak kontraksi, denyut jantungnya OK. Mulailah mengatur nafas, menenangkan diri. Eh, hasil EKG nya masih ga bagus juga. Sampai ditanyain susternya, waktu kontrol bayinya kelilit tali pusar gak. Akhirnya saya dipasangin oksigen. Suster bolak-balik mengamati EKG dan foto, hasilnya dikirim ke dokter. Sambil konsultasi dengan dokter, suster yang lain mengecek bukaan saya. Ternyata sudah mau bukaan 2. Kata suster, ini ada lendirnya kok bu. Darah segar yang perlu dikhawatirkan itu darah yang mengalir terus menerus kayak nyembelih ayam. Kalau saya sih kayak lagi menstruasi. Kebetulan dokter yang membantu saya adalah dokter piket (udah feeling sih bakal dilayani dokter ini) bukan dokter kontrol saya. Setelah konsultasi dengan dokter via telepon, suster pun ngajak ngobrol saya dengan suami.

Suster memanggil saya dan suami *kok kayak tegang banget sih*, suster mengatakan bahwa EKG nya kurang bagus (dengan kata lain tidak stabil). Menurut dokter, kondisinya gawat janin dan harus dioperasi. Saya tidak bisa memutuskan, saya berharap suami saja yang memutuskan. Ternyata dia juga bingung. Akhirnya saya menawar, apakah pengamatan bisa dilakukan sekitar 5-10 menit lagi. You know, betapa saya ingin lahiran normal. Susternya bilang, pengamatannya udah lebih lama dari biasanya bu, ini sudah dua kertas biasanya satu kertas. Ini gawat janin bukan ibunya yang gawat. Kita harus ambil tindakan dengan cepat, karena kita tidak tahu 5 menit ke depan bagaimana (well, ini sekitar jam 11-an). Dengan kondisi yang syok, bingung, udah ga tau mau ngapain. Suami juga sama. Suster pun bilang, kalau ibu gak mau, boleh tanda tangan surat penolakan. Waduh, ya sudah saya ikut saja.

Saya kemudian masuk ke ruang operasi. Suami menunggu di luar. Ini pertama kalinya 2015413173137saya dioperasi. Operasi dimulai sekitar jam 12-an. Setelah dibedah perut saya, ternyata bayi saya kelilit tali pusar. Karena kelilit, bayi nya jadi stress akhirnya pup di dalam kandungan. Air ketubannya jadi agak hijau. Iseng nanya ke dokter apa penyebab kelilit tali pusar. Menurut beliau, ya namanya juga bayi bergerak, jadi gak tau pasti penyebabnya *sebenarnya hal ini yang paling saya khawatirkan ketika hamil karena adik saya meninggal ketika dilahirkan karena kelilit tali pusar*. Kemudian kata dokter, ada pasiennya yang bisa lahiran normal walaupun kelilit tali pusar tetapi sudah bukaan besar (8 ke atas) sementara saya bukaannya masih kecil banget (1 menuju 2), kalau nunggu sampai bukaan besar, khawatirnya bayi nya tidak tertolong.

Puji Tuhan, bayi saya bisa selamat dilahirkan pada 8 April 00:37.Sempet khawatir pas diangkat kok ga nangis. Kata dokternya sabar. Eh nangis juga setelah dibersihkan lendirnya. Bayi yang sehat dan sempurna. Udah siap-siap mau IMD nih, eh ternyata bayinya mau dibawa untuk observasi jadi cuma nyium pipi. Di situ saya jadi sedih. Kata suami saya, selama operasi, dia gak kalah deg-degannya sambil sujud-sujud berdoa. Lebih khawatir lagi karena bayi saya sudah keluar dibawa untuk observasi tapi kok saya belum keluar-keluar juga.

Operasi selesai sekitar jam 2-an subuh. Ngantuk bangeeeet, haus bangeeeet. Sempet muntah pas dioperasi ya secara operasinya gak direncanain. Hehe.Bayi saya dibawa ke ruang ICU bayi. Suami meminta mertua datang untuk mengawasi sementara dia menemani saya. Sekitar jam 3 saya dibawa ke ruang rawat. Tidur akhirnya. Oh ia saya minta minum ke suster tetapi tidak dibolehkan sebelum kentut. Sekitar jam 5-an, sudah kentut saya minta minum. Gak boleh banyak banyak katanya. Hauuuus suster >.< nanti mual bu. Tak lama kemudian, saya minum lagi. Mungkin agak napsu jadinya muntah >.< Sampai agak siang, minum jadi dikit. Susternya bilang minum harus banyak, sekarang udah bisa banyak.

Dua hal yang saya impikan : IMD & rawat bareng tidak bisa terealisasi karena bayi saya dirawat di ICU bayi. However, tetep bersyukur bayi saya bisa dilahirkan dengan normal.

Teman-teman kantor tentu saja kaget, perasaan kemarin masih ngantor kok pagi ini sudah lahiran. Ga tau aja mereka kalau saya caesar di bukaan kecil jadi cepet. hehe.

Bayi saya dirawat sekitar delapan hari. Hari kedua setelah saya bisa berjalan, saya tidak sabar bertemu bayi saya. Masih agak puyeng dan sakit ketika berjalan. Saya akhirnya melihat bayi saya secara langsung. Masih ga berani megang apalagi gendong. Bayi saya belum boleh menyusui langsung karena banyak selang yang dipasang. Jadi saya harus perah kemudian diminumkan via selang. Sedih rasanya lihat bayi saya seperti itu.

Hari sabtu saya akhirnya diperbolehkan pulang. Sedih rasanya (sampai sekarang pun ketika mengingat hal itu dan menuliskannya masih terasa sedih) pulang dari RS tidak membawa bayi. Tiap hari dari pagi hingga malam tidak mengenal lelah, mengacuhkan rasa sakit, kantuk, haus dan lapar saya dan suami menunggui bayi kami. Kami sempat kecewa dengan tindakan dan perawatan RS terhadap bayi kami. Hari pertama ketika akan dilakukan terapi antibiotika, saya menyetujuinya karena saya khawatir ada efek ke bayi saya akibat air ketuban yang sudah agak hijau. Namun setelah beberapa hari, dokter menyarankan untuk mengganti antibiotika karena antibiotika sebelum nya tidak ngefek. Sedih rasanya, kecewa dan marah. Jarumnya diganti sana sini. Kedua tangan dan kaki sudah ditusuk jarum. Hasil Lab yang sempet membaik trus jadi jelek bahkan lebih jelek dari ketika dia dilahirkan membuat kami nekat mau membawa bayi kami keluar. Ditahan-tahan sih sama Rumah Sakit, ditakut-takutin juga.

Akhirnya kami menunggu lagi. Parahnya, kaki bayi kami membengkak katanya albumin nya rendah. Mau dikasi protein. Saya marah, saya tidak mau bayi saya dimasukin obat-obatan dan kandungan instant seperti protein itu. Suami saya juga perhatikan bahwa ASI kadang tidak dikasi padahal sudah waktunya dikasi. Kenapa gak ASI aja? Akhirnya kami keukeuh pulang. Nah karena udah terlanjur dibayar sampai malam, jadi besok kami akan membawa pulang. Ditanyain, diinterogasi sama suster kenapa mau keluar dst,dst. Bayi saya masih dalam inkubator. Katanya habis dari inkubator harus turun box dulu dan prosedur2 lainnya. Mungkin saya sampai 1 bulan. Saya tidak mau jauh dari bayi saya. Anggapan saya, bayi paling bagus dirawat bersama oleh ibunya dan hanya diberikan ASI.

Hari itu, 15 April kami nekat membawa pulang bayi kami. Kami percaya, Tuhan sudah menyembuhkan dia dan ASI serta sinar matahari cukup untuknya. Puji Tuhan beberapa hari kemudian kakinya mulai kempes. ASI mungkin lebih lama daripada protein instant tapi ASI lebih alami.

2015802120034Mungkin karena menjadi newbie orang tua, kami tidak tahu tindakan apa yang perlu diambil. Takut juga sebenarnya waktu itu ketika nekat membawa bayi pulang. Suami pun meminta pendapat kepada tantenya yang dokter. Namun, kami percaya Tuhan sanggup menyempurnakan kesembuhan bayi kami. Saya juga percaya bahwa dekapan ibu dan ASI adalah yang terbaik.

Hari ini, dia sudah berumur 5 bulan 2 mingguan. Sehat, lincah, gemuk (gemuk sehat) dan menggemaskan.

Bersyukur kepada Tuhan Yesus atas mujizatnya sehingga bayi kami bisa lahir dengan selamat dan bisa sehat.

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Parenting, Pregnancy. Bookmark the permalink.

2 Responses to When He’s Born…

  1. coxon3011 says:

    joice…. demi apa,,, gw gak tahu kalau lo dah punya anak.. *kudet banget* selamat ya joice semoga anaknya jd anak yang berbakti ke orang tua… pinter dan kuat…

  2. joice says:

    gw emang ga suka eksploitasi ala artis2 sih adin…
    hehehe…
    amiiin. makasih ya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s