When I Had to Have Sectio Caesarea

kissBeberapa hari ini saya membaca beberapa artikel tentang Sectio Caesarea sehingga menggelitik saya untuk menulis sebuah artikel mengenai hal itu juga. Di postingan lain sudah saya pernah share proses kelahiran Caleb. Saya masih ingat saat itu, ketika saya mengetahui bahwa saya hamil. I felt amazed that someone was growing inside of me. Saya kemudian mencari dokter dan Rumah Sakit yang pro-normal. Long story short, saya memilih sebuah Rumah Sakit yang sudah beberapa kali mendapatkan gelar Rumah Sakit sayang ibu dan anak begitu juga dokter yang pro-normal. Seperti kebanyakan ibu lainnya, saya juga mengharapkan lahiran normal, because I wanna feel the pain, pain of labouring, pain of delivering a baby. Perjuangan saat melahirkan itu rasanya membuat saya merasakan perjuangan seorang ibu. Selain itu, melahirkan normal memiliki resiko yang lebih kecil dibanding SC pasca melahirkan.

Setiap kontrol terutama di trimester ketiga, saya selalu menanyakan kepada dokter apakah saya masih bisa lahiran normal. Semakin bertambah umur janin, semakin banyak saya mencari tahu bagaimana agar bisa lahiran normal termasuk ngobrol dengan orang yang sudah memiliki anak. Dari obrolan ini juga saya tahu bahwa banyak sekali kondisi yang membuat si ibu mau tidak mau harus SC. Selama hamil saya mengonsumi makanan yang bergizi, bernutrisi dan penting untuk janin. Bahkan saya rela diet ketika disuruh dokter untuk diet, saya rela menahan diri saya dari godaan makanan yang manis.

Well, sekitar 3 mingguan sebelum lahiran saya pindah dari Jakarta ke Bogor, rasanya untuk pindah dan searching rumah sakit dan dokter di bogor sudah sangat mepet jadi saya tetap kontrol ke Jakarta. Saya masih ingat suasana malam itu ketika saya merasakan kontraksi kemudian saya panik melihat darah karena suster mengatakan jika ada darah harus segera ke rumah sakit karena berbahaya. Ternyata yang dimaksud oleh suster adalah darah segar dan mengalir seperti ayam yang dipotong. Kami cukup panik apalagi Rumah Sakit susah dihubungi. Selama di KRL, kami hanya terdiam dalam doa kami masing-masing. Tiba di Rumah Sakit, suster mengecek darah dan hal itu normal karena salah satu tanda akan melahirkana dalah keluar darah (seperti menstruasi) dan lendir. Prosedur standar pun kemudian dilakukan. Alat EKG dipasang untuk mengukur denyut jantung janin. Saya tidak tahu apa yang terjadi tetapi suster mengatakan untuk tenang bahkan ketika hasil EKG tidak kunjung baik, oksigen pun dipasangkan ke saya. Hasil EKG kemudian difoto dan dikirim ke dokter yang piket malam itu (dokter saya sedang seminar di luar kota sehingga ditangani oleh dokter piket. Dokter ini jadwalnya paling banyak di Rumah Sakit tersebut sehingga saya pernah berpikir sepertinya akan ditangani dokter ini ketika melahirkan) setelah konsultasi dengan dokter via phone, suster pun berbicara dengan kami. Cukup menegangkan karena pembicaraannya sepertinya cukup rahasia dan penting. Suster memberitahu bahwa kami mengalami gawat janin terlihat dari hasil EKG yang tidak stabil. Ketika kontraksi, EKG turun di bawah standar sehingga operasi harus dilakukan segera. Waktu itu bukannya baru satu menuju dua (susternya bilang satu tapi longgar). Kami pun terdiam, suami saya tahu betapa saya menginginkan melahirkan secara normal. Saya juga tidak bisa berpikir dan mengambil keputusan. Saya kemudian melobi suster untuk melakukan pengecekan EKG lagi. Suster mengatakan ini sudah dua lembar padahal biasanya hanya satu lembar. Saat itu pikiran dan ego saya berkecamuk bahkan suster sampai menawarkan kami untuk menandatangani surat penolakan tindakan. Come on man, ini baru pembukaan awal banget, masih lama perjalanan tetapi kenapa langsung divonis harus caesar? Saat itu kami berpacu dengan waktu karena masalah yang kami hadapi adalah gawat janin, telat sebentar saja, janin kami tidak tertolong. Akhirnya, saya mengalahkan ego saya untuk melahirkan normal dan memilih untuk SC.

caesarRuangan yang cukup dingin, tidak ditemani suami, keputusan yang tiba-tiba, harapan untuk melahirkan normal yang sudah pupus ditambah lagi saya belum pernah menjalani operasi membuat saya lebih cemas. Namun, saya yakin Tuhan Yesus beserta saya saat itu, yang menenangkan saya, yang membuat semua paramedis bisa bekerja sama dengan baik bahkan santai sehingga membuat saya santai juga buat mantri yang sigap membantu saya ketika saya muntah di tengah operasi karena operasi ini mendadak. Terutama, saya yakin hanya pertolongan Tuhan Yesus Caleb bisa tertolong dan lahir dengan selamat. Saya agak panik karena Caleb tidak nangis ketika dikeluarkan. Paramedis menenangkan saya. Setelah dimasukkan selang ke dalam tubuh Caleb untuk membersihkan lendir (saya kurang paham tetapi sepertinya ini prosedur umum), Caleb kemudian nangis. Saya berharap saya bisa IMD saat itu, namun saya hanya dikasi kesempatan untuk mencium Caleb lalu Caleb dibawa untuk diobservasi.

Saya tidak punya pilihan lain saat itu. Caleb mengalami gawat janin karena terlilit tali pusat sehingga membuat dia stress dan pup akibatnya air ketubannya tercemar oleh pup nya. Dokter yang menangani saya waktu itu lebih memilih merobek vagina pasien untuk bisa lahiran normal daripada SC. Ada pasiennya yang bisa lahiran normal walaupun janinnya terlilit tali pusat karena mereka sudah di pembukaan 8 ke atas. Sementara saya, baru pembukaan awaaaaal banget sudah gawat janin. Jika saya memaksakan menunggu hingga pembukaan 10, mungkin janin saya tidak dapat diselamatkan. Saya tidak punya pilihan lain selain caesar dan harus saat itu juga.

Mungkin saat proses melahirkan, pasien SC tidak mengalami kesakitan seperti ibu-ibu holdyang melahirkan normal. Namun sakit yang dirasakan setelah operasi luar biasa. Saya tidak bisa bangun, hanya bisa menengok dan sedikit menegakkan punggung saya. Terlebih lagi Caleb tidak bisa dirawat bersama saya karena dia harus masuk NICU. Puji Tuhan, ASI saya sangat lancar sehingga cukup buat Caleb bahkan ada yang bisa di-stok. Setelah saya bisa berjalan, saya kemudian mengunjungi Caleb di ruang NICU.

Selain mental saya yang lelah karena habis melahirkan dan tidak bisa sekamar dengan Caleb, fisik saya juga lelah karena harus bolak-balik kamar & NICU, menunggunya di NICU sambil menahan sakit bekas operasi. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika saya pulang dari Rumah Sakit tidak membawa Caleb. Sepanjang jalan saya hanya bisa menangis sambil menahan sakit bekas operasi.

Dua hari setelah saya pulang namun masih bolak-balik NICU, dengan lelah fisik dan hati serta menahan sakit, saya mendengar seorang bapak yang ngobrol ntah dengan keluarganya atau temannya berkata :”Kalau gak lahiran normal, belum sah jadi ibu ya?” sambil tertawa. If I hadn’t controlled myself, perhaps I’d have punch him right at his face! It’s good pak kalau istri bapak bisa lahiran normal, It’s good kalau istri bapak bisa dikasi kesempatan lahiran normal. Sampai sekarang saya suka gemes & kesel kalau membaca atau mendengar orang-orang yang dengan tololnya berkata seperti itu. Apakah perjuangan menjadi ibu hanya berdasarkan ketika dia melahirkan? Apakah perjuangan membawa bayi dan menjaga asupan selama 9 bulan tidak dperhitungkan? Apakah bapak tahu bahwa hampir semua perempuan mau melahirkan normal tapi tidak semua bisa? Apakah bapak tahu sakit yang diderita pasien SC pasca melahirkan juga luar biasa sakitnya?

Begitu banyak keadaan yang membuat sang ibu harus menjalani Sectio Caesarea. Begitu banyak calon ibu mendambakan melahirkan secara normal.Begitu juga ada ibu-ibu yang seperti saya tidak punya pilihan lain selain SC dan harus berpacu dengan waktu. Sectio Caesarea bukan operasi ringan pak, SC termasuk operasi besar. Ibu-ibu yang mengalami SC bukan berarti tidak mengalami kesakitan yang dialami oleh ibu-ibu yang melahirkan secara normal pak, hanya bedanya kami merasakan sakit bukan saat melahirkan tetapi setelah melahirkan. Jadi, dengan sakit yang kami rasakan setelah operasi, fisik, mental bahkan hati yang lelah, kami berharap tidak mendengar komentar tolol seperti yang bapak katakan : seorang wanita menjadi ibu hanya jika dia melahirkan normal.

Untuk semua perempuan di luar sana yang melahirkan melalui operasi caesar, kamu heroadalah pahlawan! kamu berani menanggung resiko yang tidak kecil, menahan sakit dan bahkan mendapatkan bekas luka yang mungkin tetap ada seumur hidup untuk melahirkan seorang bayi mungil ke dalam dunia.

image sources :

https://bidandelima.wordpress.com

https://id.pinterest.com

https://supermomishere.wordpress.com

 

 

Advertisements

About joice

I am girl, sweet, attractive, charming
This entry was posted in Pregnancy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s